GEMA NUSANTARA

GERAKAN MEDIA ANAK BANGSA NUSANTARA

Subscribe
Media–Inovasi-Driven Economy ala Prabowo Subianto: 2 Kekuatan yang Saling Mengisi

Dalam sejarah pembangunan ekonomi Indonesia, kita telah mengenal berbagai model pertumbuhan—mulai dari resource-driven economy yang mengandalkan sumber daya alam, investment-driven economy yang bergantung pada modal asing, hingga consumption-driven economy yang bertumpu pada daya beli domestik. Namun, di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto, tampak muncul arah baru yang lebih kompleks dan adaptif terhadap zaman digital: media–inovasi-driven economy, sebuah model yang menggabungkan kekuatan narasi publik melalui media dengan kekuatan transformasi nyata melalui inovasi teknologi.

Model ini bukan sekadar jargon. Ia mencerminkan dua hal yang semakin menentukan arah ekonomi modern: narasi kepercayaan publik yang dikonstruksi melalui media, dan kapasitas inovatif bangsa yang ditopang oleh kebijakan digitalisasi dan teknologi. Dua dimensi ini—simbolik dan material—bekerja secara bersamaan, membentuk kepercayaan, investasi, dan produktivitas.

Narasi sebagai Modal Kepercayaan Ekonomi

Salah satu pilar penting dari model ini adalah peran media dan komunikasi publik dalam membangun narasi ekonomi positif. Pemerintahan Prabowo tampaknya memahami bahwa persepsi investor dan masyarakat sama pentingnya dengan indikator ekonomi formal. Ketika narasi kuat, kepercayaan menguat—dan kepercayaan adalah bahan bakar utama ekonomi modern.

Sebagai contoh, pada Oktober 2025, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menembus rekor tertinggi sepanjang sejarah. Media seperti TVOneNews menafsirkan capaian ini sebagai bukti meningkatnya kepercayaan investor terhadap arah ekonomi di bawah kepemimpinan Prabowo.

“IHSG tembus rekor tertinggi sepanjang sejarah, bukti investor percaya pada ekonomi Indonesia di era Prabowo,” tulis TVOneNews (2025).
(tvonenews.com).

Narasi semacam ini memiliki efek berganda: pertama, memperkuat keyakinan domestik bahwa ekonomi Indonesia stabil; kedua, menciptakan efek psikologis positif bagi investor global yang memperhatikan sentimen pasar. Narasi kepercayaan publik bukan sekadar propaganda, melainkan strategi komunikasi ekonomi yang memperkuat persepsi stabilitas dan kredibilitas nasional.

Inovasi Teknologi sebagai Motor Material

Namun narasi tanpa inovasi akan menjadi kosong. Karena itu, unsur kedua dari model ini adalah transformasi digital dan teknologi yang dilakukan secara sistematis. Dalam satu tahun pertama pemerintahan Prabowo-Gibran, digitalisasi menjadi salah satu fokus utama.

Menurut laporan Indonesia.go.id, Kementerian Komunikasi dan Digital Republik Indonesia (Kemkomdigi) telah memperluas konektivitas di wilayah terpencil, memperkuat literasi digital, serta mempercepat transformasi layanan publik berbasis teknologi.

“Kemkomdigi membangun konektivitas dan memperkuat digitalisasi nasional untuk memastikan pertumbuhan inklusif,” tulis Indonesia.go.id (2025).(indonesia.go.id)

Selain itu, kebijakan strategis juga diarahkan pada penguatan sovereign wealth fund (Lembaga Pengelola Investasi), yang ditujukan untuk mendukung proyek-proyek bernilai tambah tinggi di bidang teknologi dan infrastruktur.
Reuters mencatat bahwa pada Februari 2025, pemerintah Indonesia secara resmi mengalokasikan US$20 miliar untuk mendukung investasi di sektor strategis melalui lembaga tersebut.(Reuters, 24 Februari 2025)

Langkah-langkah ini memperlihatkan bahwa inovasi bukan sekadar transformasi digital semata, tetapi juga perluasan basis produktivitas melalui investasi strategis jangka panjang.

Media sebagai Mesin Kesadaran Ekonomi

Selain inovasi teknologi, media memainkan peran penting dalam membangun trust economy. Media bukan sekadar penyampai informasi, melainkan aktualisator persepsi publik yang dapat mempercepat adopsi inovasi dan membentuk legitimasi kebijakan.

Artikel “7 Kekosongan Regulasi Fintech di Era BigTech dan DeFi” yang diterbitkan oleh GEMA Nusantara – YPPPAL-AMSI (14 September 2025) menekankan peran media dalam mengangkat isu krusial terkait regulasi fintech. GEMA menulis:

“Ketidaksiapan sistem hukum dan kebijakan publik terhadap dinamika BigTech dan DeFi menimbulkan ketimpangan antara kekuatan inovasi dan kemampuan negara melindungi publik.”
(GEMA Nusantara, 2025, gema.ypppal-amsi.or.id)

Pandangan ini memperlihatkan bahwa media berfungsi sebagai agen kesadaran ekonomi, memastikan inovasi digital tetap sejalan dengan kepentingan publik. Dengan kata lain, media menjadi bagian dari infrastruktur sosial inovasi, yang menguatkan kepercayaan masyarakat sekaligus mendorong transparansi.

Media–Inovasi: Dua Kekuatan yang Saling Mengisi

Di sinilah letak kekhasan model media–inovasi-driven economy. Media berfungsi sebagai kanal konstruksi makna dan persepsi, sementara inovasi berfungsi sebagai bukti konkret yang meneguhkan narasi. Dalam era digital, kedua elemen ini saling memperkuat dalam menciptakan legitimasi ekonomi.

Ketika media menggaungkan capaian transformasi digital dan industrialisasi baru, masyarakat tidak hanya disuguhi harapan, tetapi juga realitas yang bisa diverifikasi. Hal ini terlihat dari sejumlah kerja sama internasional yang diliput secara luas oleh media asing.
Misalnya, kesepakatan US$10 miliar antara Indonesia dan Tiongkok untuk pengembangan energi hijau dan teknologi lithium, yang diberitakan oleh Reuters pada November 2024.
(Reuters, 10 November 2024)

Dengan media yang berperan sebagai amplifier (penguat pesan) dan inovasi yang menjadi substance (isi nyata), kombinasi ini menciptakan ekosistem ekonomi yang tak hanya produktif tetapi juga persuasif.

Dibandingkan dengan Model Ekonomi Lain

Jika dibandingkan dengan model ekonomi klasik, pendekatan Prabowo ini menunjukkan pergeseran paradigma.

  1. Resource-driven economy — yang menitikberatkan pada eksploitasi sumber daya alam — kini dianggap tidak berkelanjutan dan rentan terhadap fluktuasi global.
  2. Investment-driven economy, yang mengandalkan arus modal asing, kerap membuat ekonomi domestik tergantung pada kepentingan eksternal.
  3. Consumption-driven economy memang kuat di sektor ritel dan UMKM, tetapi lemah dalam inovasi dan ekspor bernilai tinggi.
  4. Innovation-driven economy menekankan riset, teknologi, dan kreativitas, namun butuh waktu panjang dan ekosistem SDM yang matang.

Model media–inovasi-driven economy justru mencoba mengisi celah di antara semua itu. Ia tidak hanya menunggu hasil riset, tetapi juga memanfaatkan kekuatan narasi publik dan media digital untuk mempercepat legitimasi dan penerimaan sosial terhadap transformasi yang sedang berlangsung.

Dengan demikian, media berfungsi sebagai “accelerator of trust”, sementara inovasi bertindak sebagai “accelerator of value”. Kombinasi keduanya menciptakan percepatan ekonomi yang berbasis pada kepercayaan publik sekaligus peningkatan produktivitas nasional.

Tantangan dan Risiko

Meski potensial, model ini tidak bebas risiko. Ada tiga catatan kritis yang perlu diperhatikan.

Pertama, narasi tidak boleh mendahului realitas. Jika media terlalu hiperbolik dalam menggambarkan capaian ekonomi tanpa dasar faktual yang kuat, kepercayaan publik bisa runtuh seketika. Kredibilitas narasi harus dijaga dengan transparansi dan akurasi.

Kedua, inovasi membutuhkan ekosistem berkelanjutan—terutama dalam hal riset, pendidikan vokasi, dan kolaborasi antara universitas, industri, serta pemerintah. Tanpa itu, digitalisasi hanya akan menjadi proyek jangka pendek tanpa nilai tambah produktif.

Ketiga, independensi media harus dijaga. Jika media hanya menjadi corong propaganda tanpa kritik konstruktif, fungsi check and balance dalam sistem demokrasi ekonomi akan melemah.

Arah Baru Ekonomi Naratif dan Inovatif

Kebijakan ekonomi Prabowo menunjukkan kesadaran bahwa dalam abad ke-21, kekuatan ekonomi tidak hanya ditentukan oleh sumber daya dan kapital, tetapi juga oleh kemampuan membangun narasi dan inovasi secara bersamaan.
Inilah alasan mengapa strategi pembangunan digital, promosi investasi hijau, dan pembentukan lembaga pengelola investasi menjadi fondasi penting pemerintahan saat ini.

Selain itu, pembentukan Kementerian Pendapatan Negara yang sedang direncanakan (Reuters, 1 Desember 2024) menjadi langkah untuk menata ulang struktur fiskal dan meningkatkan efisiensi penerimaan negara.
(Reuters)

Langkah ini menegaskan bahwa inovasi bukan hanya pada teknologi, tetapi juga pada kelembagaan fiskal dan kebijakan publik.

Penutup: Membangun Ekonomi Kepercayaan dan Nilai

Model media–inovasi-driven economy ala Prabowo adalah sebuah eksperimen strategis dalam memadukan narasi dengan inovasi. Media berperan membentuk persepsi dan kepercayaan publik, sedangkan inovasi menghadirkan bukti dan nilai nyata di lapangan. Ketika keduanya seimbang, ekonomi akan memiliki fondasi yang lebih tangguh dan adaptif.

Dalam era informasi dan teknologi yang serba cepat, Indonesia berpeluang menjadi negara yang tidak hanya kaya sumber daya, tetapi juga kaya ide dan makna. Jika Prabowo mampu menjaga keseimbangan antara simbol dan substansi, antara narasi dan inovasi, maka ekonomi Indonesia berpotensi melompat menjadi innovation-driven nation yang kokoh, percaya diri, dan berdaya saing global.

Penulis : Iman Lubis (Dosen Universitas Pamulang)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *