Pasar saham selama ini sering dipandang sebagai tempat bertemunya logika, data, dan analisis rasional. Dalam teori keuangan klasik, investor diasumsikan selalu mampu mengambil keputusan secara objektif berdasarkan informasi yang tersedia di pasar. Namun, kenyataannya, pergerakan harga saham tidak selalu mencerminkan kondisi fundamental perusahaan. Dalam banyak kasus, harga saham justru bergerak karena sentimen, emosi, dan perilaku psikologis investor. Fenomena ini dijelaskan dalam pendekatan Irrational Investor Approach dalam Behavioral Corporate Finance.
Pendekatan tersebut menjelaskan bahwa investor sering bertindak tidak rasional karena dipengaruhi oleh rasa takut, euforia, overconfidence, maupun perilaku ikut-ikutan (herding behavior). Akibatnya, pasar menjadi tidak efisien dan harga saham dapat menyimpang dari nilai wajarnya. Dalam kondisi tertentu, saham bisa menjadi terlalu mahal (overvalued) ketika investor terlalu optimis, atau justru terlalu murah (undervalued) ketika kepanikan melanda pasar.
Fenomena investor tidak rasional semakin terlihat dalam beberapa tahun terakhir, terutama sejak meningkatnya jumlah investor ritel dan penggunaan media sosial sebagai sumber informasi investasi. Data PT Kustodian Sentral Efek Indonesia menunjukkan bahwa jumlah investor pasar modal Indonesia mencapai sekitar 14,8 juta investor pada akhir tahun 2024 dan terus mengalami peningkatan signifikan (KSEI, 2024).
Mayoritas investor tersebut berasal dari kalangan generasi muda yang aktif menggunakan platform digital dan media sosial dalam aktivitas investasinya. Kondisi ini menunjukkan bahwa pasar modal Indonesia semakin dipengaruhi oleh dinamika sentimen publik dan arus informasi digital (OJK, 2024).
Dalam praktiknya, banyak investor membeli saham hanya karena mengikuti rekomendasi influencer, komunitas investasi, atau tren yang sedang viral tanpa memahami kondisi fundamental perusahaan. Ketika harga saham naik, investor berbondong-bondong membeli karena takut tertinggal momentum atau fear of missing out (FOMO). Sebaliknya, saat harga mulai turun, kepanikan muncul dan aksi panic selling tidak dapat dihindari. Kondisi ini menyebabkan harga saham bergerak sangat fluktuatif dalam waktu singkat.
Salah satu bentuk perilaku tidak rasional yang sering terjadi adalah overreaction, yaitu ketika investor bereaksi secara berlebihan terhadap berita baik maupun buruk. Misalnya, sebuah perusahaan melaporkan kenaikan laba yang sebenarnya tidak terlalu signifikan, tetapi pasar merespons secara berlebihan sehingga harga saham melonjak tinggi dalam waktu singkat. Namun, setelah euforia mereda, harga saham biasanya mengalami koreksi tajam. Penelitian Zhang et al. (2022) menunjukkan bahwa sentimen investor memiliki pengaruh kuat terhadap volatilitas pasar saham dan dapat memicu ketidakseimbangan harga jangka pendek.
Link sumber:
Selain itu, penelitian Yifeng (2024) menemukan bahwa sentimen media sosial dapat meningkatkan aktivitas perdagangan berlebihan (overtrading) dan memperbesar risiko mispricing saham di pasar modal modern.
Link sumber:
Herding behavior juga menjadi faktor penting dalam volatilitas pasar modern. Investor cenderung mengikuti keputusan mayoritas tanpa melakukan analisis mendalam. Akibatnya, ketika sebagian besar investor membeli saham tertentu, investor lain ikut membeli meskipun belum memahami risiko investasi tersebut. Fenomena ini sering menciptakan gelembung harga (asset bubble) yang pada akhirnya berpotensi memicu kejatuhan pasar ketika sentimen berubah negatif.
Fenomena tersebut pernah terlihat dalam kasus saham meme seperti GameStop dan AMC di Amerika Serikat, di mana investor ritel melakukan pembelian besar-besaran karena pengaruh komunitas media sosial dan dorongan spekulatif, bukan semata-mata faktor fundamental perusahaan (MarketWatch, 2024).
Fenomena investor tidak rasional juga terlihat ketika terjadi krisis global atau konflik geopolitik internasional. Sentimen pasar sering berubah drastis meskipun tidak semua perusahaan terdampak secara langsung. Dalam konteks ini, Lubis (2025) menyatakan bahwa “pasar modal modern bukan sekadar cermin kinerja ekonomi, melainkan juga barometer geopolitik dunia.”
Dalam kondisi pasar yang tidak efisien, perusahaan yang dikelola secara rasional justru dapat memanfaatkan momentum tersebut melalui strategi market timing. Ketika harga saham perusahaan dianggap terlalu tinggi akibat euforia investor, perusahaan dapat menerbitkan saham baru (seasoned equity offering) untuk memperoleh tambahan modal dengan biaya yang lebih murah. Dengan demikian, perilaku investor yang tidak rasional tidak hanya menciptakan volatilitas pasar, tetapi juga dapat menjadi peluang strategis bagi perusahaan.
Meski demikian, pasar yang terlalu dipengaruhi oleh sentimen tentu tidak sehat dalam jangka panjang. Volatilitas yang tinggi dapat meningkatkan risiko kerugian bagi investor, terutama mereka yang minim literasi keuangan. Oleh sebab itu, edukasi investasi dan pemahaman mengenai analisis fundamental menjadi sangat penting agar investor tidak mudah terjebak dalam kepanikan maupun euforia pasar.
Pada akhirnya, pasar saham bukan hanya tentang angka dan laporan keuangan, tetapi juga tentang psikologi manusia. Selama emosi masih mendominasi keputusan investasi, harga saham akan terus bergerak tidak hanya berdasarkan nilai perusahaan, tetapi juga berdasarkan rasa takut, harapan, dan perilaku kolektif para investor. Oleh karena itu, membangun budaya investasi yang lebih rasional dan berbasis literasi menjadi langkah penting dalam menciptakan pasar modal yang sehat dan berkelanjutan.
Penulis : Redaksi Gema Nusantara
