GEMA NUSANTARA

GERAKAN MEDIA ANAK BANGSA NUSANTARA

Subscribe
Dari Kiev ke Jakarta: Efek Domino Krisis Rusia–Ukraina terhadap Bursa Saham

Gejolak Bursa Bukan Sekadar Soal Ekonomi

Krisis Rusia–Ukraina yang meletus pada Februari 2022 menjadi pengingat pahit bahwa pasar modal tidak kebal terhadap guncangan geopolitik. Apa yang terjadi ribuan kilometer dari Australia maupun Indonesia ternyata bisa langsung menimbulkan kepanikan di lantai bursa. Data menunjukkan, pada 22 Februari 2022, sehari setelah Rusia mengakui wilayah Donetsk dan Luhansk sebagai negara merdeka, indeks S&P/ASX 200 Australia jatuh sebesar 1,4% dalam satu hari (Kamal, Ahmed, & Hasan, 2023).

Studi yang dipublikasikan dalam Pacific-Basin Finance Journal mengungkap bahwa penurunan ini tidak hanya bersifat simbolis. Perusahaan kecil dan menengah mengalami abnormal return negatif yang signifikan, sementara perusahaan besar relatif lebih tahan. Sektor teknologi, properti, dan konsumsi tertekan, tetapi sektor energi justru mencatat keuntungan akibat lonjakan harga komoditas (Kamal et al., 2023).

Menurut saya, fenomena ini menunjukkan dengan gamblang bahwa pasar modal modern bukan sekadar cermin kinerja ekonomi, melainkan juga “barometer geopolitik” dunia.

Geopolitik sebagai Risiko Sistemik

Penelitian-penelitian terdahulu telah lama menegaskan bahwa ketidakpastian politik dapat menekan kinerja pasar saham. Lehkonen dan Heimonen (2015) misalnya, menunjukkan adanya hubungan terbalik antara risiko politik dan return saham di 49 negara berkembang. Hal serupa juga ditemukan Smales (2017) dalam kasus referendum Brexit, di mana ketidakpastian politik mendorong volatilitas pasar yang signifikan.

Dalam kasus Rusia–Ukraina, dampak yang ditimbulkan lebih kompleks. Selain faktor sentimen investor, ada elemen fundamental yang terguncang: perdagangan internasional, pasokan energi, hingga inflasi global. Ahmed et al. (2022) mencatat bahwa pengakuan Rusia terhadap dua wilayah Ukraina langsung memicu penurunan signifikan di pasar saham Eropa. Di sisi lain, Fang dan Shao (2022) menemukan bahwa konflik ini memperparah gejolak harga komoditas, terutama energi dan pangan, yang berdampak luas pada ekonomi dunia.

Saya berpendapat bahwa di era globalisasi, krisis geopolitik semacam ini adalah risiko sistemik global. Artinya, tidak ada satu pun pasar yang bisa benar-benar aman atau terisolasi.

Pelajaran bagi Investor

Temuan Kamal et al. (2023) memberi beberapa pelajaran berharga. Pertama, perusahaan kecil dan menengah lebih rentan. Di Australia, abnormal return negatif paling besar justru dialami kelompok ini, bukan perusahaan besar yang memiliki diversifikasi lebih luas. Hal serupa bisa terjadi di Indonesia, di mana mayoritas emiten di bursa adalah perusahaan berkapitalisasi kecil hingga menengah.

Kedua, sektor tertentu bisa diuntungkan, sementara yang lain terpukul. Sektor energi, misalnya, mendapat keuntungan karena harga minyak dan gas melonjak. Sebaliknya, sektor teknologi, komunikasi, dan konsumsi menderita kerugian signifikan. Menurut saya, ini menegaskan bahwa diversifikasi lintas sektor bukan sekadar teori klasik, melainkan kebutuhan praktis.

Ketiga, pasar cenderung bereaksi cepat tetapi tidak selalu bertahan lama. Studi ini menemukan bahwa kepanikan investor di awal peristiwa cenderung mereda setelah beberapa hari. Namun, pada periode jangka menengah, pasar tetap menunjukkan tren negatif yang signifikan. Bagi saya, ini peringatan agar investor membedakan antara gejolak sesaat dan dampak struktural jangka panjang.

Implikasi untuk Indonesia

Bagi Indonesia, ada beberapa hal penting. Pertama, IHSG tidak bisa mengabaikan geopolitik internasional. Meskipun Indonesia berjarak ribuan kilometer dari Kiev atau Moskow, gejolak harga energi dan pangan global bisa langsung mengguncang perekonomian domestik. Data menunjukkan, sepanjang Maret–April 2022, IHSG sempat mengalami volatilitas tinggi seiring ketidakpastian global akibat perang dan kenaikan harga minyak dunia.

Kedua, investor lokal perlu lebih cermat membaca risiko. Banyak investor ritel di Indonesia cenderung bereaksi secara emosional terhadap berita global. Dalam kerangka behavioral finance, fenomena ini disebut herding behavior, yakni kecenderungan investor untuk meniru tindakan mayoritas, sering kali tanpa analisis rasional (Jacobs, 2016). Hasilnya, pasar menjadi semakin fluktuatif.

Ketiga, regulator dan pembuat kebijakan harus memperkuat mekanisme mitigasi risiko geopolitik. Misalnya, dengan memperluas instrumen lindung nilai (hedging), mendorong diversifikasi portofolio investor institusional, serta memperkuat transparansi informasi pasar agar kepanikan tidak berlebihan.

Sebagai penulis, saya menilai bahwa Indonesia masih kurang siap menghadapi risiko geopolitik global. Perhatian kita terlalu sering terfokus pada isu domestik, padahal arus modal asing yang mendominasi pasar modal sangat sensitif terhadap isu eksternal.

Antara Rasionalitas dan Psikologi Pasar

Menariknya, penelitian Kamal et al. (2023) tidak hanya menjelaskan dampak ekonomi, tetapi juga dimensi psikologis. Investor tidak selalu bertindak rasional; mereka juga digerakkan oleh ketakutan, bias kognitif, dan sentimen. Saat krisis Rusia–Ukraina, media internasional menyoroti eskalasi perang secara masif, sehingga memperkuat persepsi risiko dan memperburuk aksi jual panik.

Hal ini sejalan dengan temuan Bash dan Alsaifi (2019), yang menunjukkan bahwa kasus hilangnya jurnalis Jamal Khashoggi di Arab Saudi juga berdampak negatif pada bursa saham negara tersebut, meski secara fundamental peristiwa itu tidak langsung berhubungan dengan kinerja perusahaan. Artinya, narasi media dan persepsi publik memainkan peran penting dalam membentuk reaksi pasar.

Menurut saya, di sinilah letak tantangan terbesar: bagaimana investor bisa memilah antara fakta fundamental dan “noise” yang dibesar-besarkan media.

Apa yang bisa dilakukan investor?

Ada tiga strategi sederhana yang bisa dipertimbangkan:

  1. Diversifikasi lintas aset dan sektor. Jangan menaruh semua dana pada satu jenis saham atau satu industri. Krisis Rusia–Ukraina menunjukkan bahwa ketika sektor teknologi dan konsumsi jatuh, sektor energi justru melonjak.
  2. Gunakan perspektif jangka panjang. Reaksi pasar terhadap peristiwa geopolitik sering kali sangat tajam di awal, tetapi mereda dalam beberapa hari. Investor yang sabar bisa menghindari kerugian karena aksi jual panik.
  3. Manfaatkan instrumen lindung nilai. Instrumen seperti emas, obligasi pemerintah, atau reksa dana indeks global bisa menjadi bantalan ketika pasar saham terguncang oleh krisis geopolitik.

Sebagai opini pribadi, saya melihat terlalu banyak investor ritel di Indonesia yang menganggap investasi saham hanya sebagai ajang trading cepat. Padahal, disiplin jangka panjang jauh lebih efektif untuk bertahan menghadapi guncangan geopolitik.

Penutup: Dari Kiev ke Jakarta

Krisis Rusia–Ukraina memberi pelajaran penting bahwa geopolitik dan pasar modal tidak bisa dipisahkan. Apa yang terjadi di Kiev atau Moskow bisa memengaruhi Sydney, Jakarta, bahkan Wall Street. Investor yang mengabaikan faktor geopolitik berisiko terjebak dalam ilusi stabilitas yang rapuh.

Seperti disimpulkan Kamal et al. (2023), dampak krisis ini terhadap pasar saham Australia memperlihatkan variasi lintas ukuran perusahaan, sektor industri, bahkan orientasi ekspor. Dengan kata lain, guncangan geopolitik tidak hanya menekan indeks secara umum, tetapi juga menciptakan pemenang dan pecundang baru di pasar modal.

Sebagai penulis, saya berpendapat bahwa Indonesia perlu membangun “literasi geopolitik finansial”. Investor, regulator, dan masyarakat harus menyadari bahwa pasar tidak berjalan dalam ruang hampa. Peristiwa global bisa datang tiba-tiba, dan hanya mereka yang siap dengan diversifikasi, disiplin, dan kesabaran yang mampu bertahan.

Sumber Bacaan

  • Ahmed, S., Kamal, M. R., & Hasan, M. M. (2022). The impact of Russia’s recognition of Ukrainian states on European stock markets.
  • Bash, A., & Alsaifi, K. (2019). Political uncertainty and stock market performance: Evidence from Saudi Arabia.
  • Boungou, W., & Yatié, A. (2022). The impact of the Russia–Ukraine conflict on global financial markets.
  • Fang, L., & Shao, Q. (2022). Commodity markets and the Russia–Ukraine conflict.
  • Jacobs, M. (2016). Behavioral finance and investor psychology.
  • Kamal, M. R., Ahmed, S., & Hasan, M. M. (2023). The impact of the Russia–Ukraine crisis on the stock market: Evidence from Australia. Pacific-Basin Finance Journal, 79, 102036.
  • Lehkonen, H., & Heimonen, K. (2015). Democracy, political risks and stock market performance. Journal of International Money and Finance, 59, 77–99.
  • Smales, L. A. (2017). Brexit and financial market uncertainty.

Penulis : Iman Lubis

Institusi : Universitas Pamulang

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *