Industri tekstil telah lama menjadi tulang punggung sektor manufaktur Indonesia. Sebagai industri padat karya, sektor ini menyerap jutaan tenaga kerja dan menjadi salah satu penyumbang devisa negara melalui ekspor benang, kain, hingga pakaian jadi. Namun dalam beberapa tahun terakhir, industri tekstil nasional menghadapi tekanan berat akibat dinamika global dan kebijakan domestik yang kompleks.
Pilar Ekonomi dan Penopang Kehidupan Sosial
Selama puluhan tahun, industri tekstil menjadi sektor strategis dalam struktur ekonomi nasional. Sentra-sentra produksi di Jawa Barat dan Jawa Tengah menjadi episentrum pertumbuhan industri ini. Ribuan usaha kecil dan menengah juga tumbuh dalam rantai pasoknya, mulai dari pengrajin batik hingga industri garmen skala kecil.
Lebih dari sekadar angka ekonomi, sektor ini memiliki dimensi sosial yang kuat. Banyak keluarga menggantungkan kehidupan dari pekerjaan di pabrik tekstil. Stabilitas produksi berarti stabilitas penghasilan, akses jaminan sosial, dan keberlanjutan pendidikan anak-anak mereka. Namun situasi tersebut kini menghadapi ujian berat.
Tantangan yang Menggerus Industri Tekstil
1. Tekanan Impor Murah
Produk tekstil impor dari China, Vietnam, dan Bangladesh membanjiri pasar domestik dengan harga lebih rendah. Menurut sebuah opini di portal GEMA NUSANTARA, sektor ini kini menghadapi “serbuan produk impor murah [yang] membuat pabrik lokal kesulitan bersaing di pasar nasional”, sebuah tantangan yang semakin menekan produsen dalam negeri.
2. Melemahnya Permintaan Ekspor
Pasar ekspor utama seperti Amerika Serikat dan Eropa mengalami perlambatan ekonomi. Selain itu, tarif perdagangan dan persaingan dari negara seperti Vietnam dan Bangladesh semakin mempersempit ruang ekspor tekstil Indonesia.
3. Turunnya Utilisasi Produksi
Banyak pabrik tekstil kini beroperasi jauh di bawah kapasitas optimal. Tingkat utilisasi yang hanya berkisar 40–70 persen berdampak langsung pada efisiensi, profitabilitas, dan keberlanjutan usaha.
4. Ketergantungan Bahan Baku Impor
Industri tekstil Indonesia masih bergantung pada impor kapas dan serat sintetis. Fluktuasi harga global dan kendala pasokan meningkatkan biaya produksi dan mempersempit margin keuntungan.
5. Dinamika Regulasi Perdagangan
Perubahan kebijakan impor yang tidak konsisten menimbulkan ketidakpastian bagi pelaku industri. Pelonggaran impor produk jadi tertentu membuat produsen lokal menghadapi persaingan tidak hanya di pasar global, tetapi juga di pasar domestik.
Krisis Nyata: PHK dan Penutupan Pabrik
Krisis ini berdampak langsung pada pekerja dan komunitas industri. Sejak 2023 hingga 2025, puluhan pabrik tekstil berhenti beroperasi. Gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK) mencapai puluhan ribu orang.
Kasus perusahaan besar seperti Sritex menjadi simbol rentannya industri ini terhadap guncangan ekonomi dan tekanan pasar global. Bagi banyak keluarga, kehilangan pekerjaan berarti hilangnya sumber penghasilan utama dan meningkatnya ketidakpastian ekonomi.
Upaya Pemulihan dan Harapan Kebangkitan
Di tengah tantangan, sejumlah langkah kebijakan mulai ditempuh:
1. Pengendalian Impor
Pemerintah merevisi regulasi perdagangan untuk memperketat evaluasi teknis sebelum impor barang jadi tertentu. Kebijakan ini diharapkan memberi ruang bagi produk lokal untuk kembali bersaing.
2. Target Peningkatan Utilisasi
Pemerintah menargetkan peningkatan utilisasi industri tekstil hingga sekitar 70 persen pada paruh kedua 2025. Jika tercapai, target ini berpotensi membuka kembali lapangan kerja dan meningkatkan produksi nasional.
3. Peningkatan Investasi
Data menunjukkan masih adanya minat investasi, baik dari dalam maupun luar negeri, terhadap sektor tekstil dan produk tekstil. Hal ini menjadi sinyal bahwa prospek jangka panjang industri ini belum sepenuhnya suram.
Antara Krisis dan Momentum Transformasi
Industri tekstil Indonesia saat ini berada di persimpangan penting. Tekanan globalisasi perdagangan, impor murah, penurunan permintaan ekspor, dan dinamika regulasi telah menimbulkan krisis yang nyata. Namun Indonesia tetap memiliki keunggulan berupa tenaga kerja besar, pasar domestik luas, dan pengalaman panjang dalam manufaktur.
Jika didukung kebijakan yang konsisten, penguatan rantai pasok domestik, serta peningkatan daya saing dan efisiensi produksi, industri tekstil berpeluang bangkit kembali. Krisis ini bisa menjadi momentum untuk melakukan transformasi menuju industri yang lebih adaptif dan berkelanjutan.
Tentang Penulis
Adam Dwi Hapsoro
Mahasiswa Teknik Industri, Universitas Pamulang
Artikel ini ditulis sebagai bagian dari syarat mengikuti Ujian Akhir Semester sekaligus langkah awal dalam mengembangkan minat di bidang kepenulisan.
