Anak-anak tertawa terbahak di depan layar gawai. Bukan karena cerita yang memiliki alur jelas, bukan pula karena humor yang dapat mereka jelaskan. Mereka tertawa pada karakter absurd, kepala panci berjalan, hiu berkaki tiga, balerina berkepala cangkir kopi, atau suara berulang tanpa makna. Bagi orang dewasa, tontonan itu tampak aneh dan membingungkan. Namun bagi anak-anak, itulah hiburan yang kini mendominasi ruang digital mereka. Fenomena ini belakangan dikenal dengan istilah brainrot.
Istilah brainrot memang bukan istilah medis, tetapi digunakan secara luas untuk menggambarkan kondisi penurunan fokus, kejenuhan kognitif, dan ketergantungan pada stimulasi cepat akibat konsumsi konten digital yang dangkal dan repetitif (Mishra & Mishra, 2024). Konten semacam ini tumbuh subur di media sosial berbasis video pendek, yang secara algoritmik dirancang untuk mempertahankan perhatian pengguna selama mungkin. Tidak ada tuntutan berpikir mendalam, tidak ada narasi berkesinambungan, bahkan sering kali tidak ada pesan eksplisit. Namun justru di situlah daya tariknya.
Bagi anak-anak, khususnya pada usia dini dan usia sekolah dasar, konten brainrot bekerja sangat efektif. Penelitian menunjukkan bahwa anak-anak memiliki keterbatasan dalam mengatur perhatian dan kontrol diri ketika berhadapan dengan media digital yang sangat stimulatif (Christakis et al., 2004). Visual mencolok, suara nyeleneh, dan pengulangan ekstrem memicu respons dopamin yang instan, membuat anak terdorong untuk terus menonton tanpa jeda. Dalam jangka panjang, pola ini berpotensi mengganggu fungsi eksekutif seperti fokus, memori kerja, dan pengendalian emosi (Lillard et al., 2015).
Di sinilah kegelisahan orang tua bermula.
Banyak orang tua, terutama ibu, mulai menyadari perubahan perilaku anak. Anak menjadi lebih sulit berkonsentrasi, mudah tersinggung ketika gawai diambil, berbicara dengan nada ketus, atau lebih memilih menyendiri bersama layar dibanding berinteraksi secara sosial. Temuan ini sejalan dengan kajian Anderson dan Subrahmanyam (2017) yang menegaskan bahwa paparan media digital berlebihan dapat memengaruhi perkembangan kognitif dan sosial anak, terutama jika tidak disertai pendampingan orang dewasa.
Namun menariknya, respons orang tua terhadap fenomena brainrot tidaklah seragam. Ada yang memilih melarang secara total, ada yang membiarkan dengan dalih hiburan, dan ada pula yang mencoba menegosiasikan batas. Perbedaan ini menunjukkan bahwa orang tua bukan sekadar pengawas teknis, melainkan audiens aktif yang memaknai konten digital berdasarkan latar belakang pendidikan, pengalaman, dan nilai yang mereka miliki.
Dalam perspektif ilmu komunikasi, kondisi ini dapat dibaca melalui pendekatan studi resepsi. Stuart Hall menegaskan bahwa pesan media tidak memiliki makna tunggal, melainkan dimaknai secara berbeda oleh audiens melalui proses encoding dan decoding (Hall, 1980). Dalam konteks brainrot, orang tua, khususnya ibu, dapat berada pada posisi resepsi dominan (menerima konten sebagai hiburan), negosiasi (menerima dengan batasan), atau oposisi (menolak dan mengkritik konten secara penuh). Posisi ini sangat dipengaruhi oleh peran ganda ibu sebagai konsumen media sekaligus pengasuh anak.
Masalahnya, pendekatan pelarangan yang kaku sering kali justru memicu konflik. Studi tentang komunikasi orang tua–anak menunjukkan bahwa kualitas relasi dan dialog jauh lebih berpengaruh terhadap perilaku anak dibanding kontrol sepihak (Samfira, 2022; Zapf et al., 2023). Ketika larangan disampaikan tanpa empati dan dialog, anak tidak merasa dilindungi, melainkan dihakimi. Akibatnya, resistensi muncul, dan relasi komunikasi menjadi renggang.
Padahal, jika ditinjau dari teori perkembangan anak, kondisi ini dapat dijelaskan secara lebih mendalam. Pada tahap praoperasional dan operasional konkret, anak masih sangat mengandalkan imajinasi dan stimulus visual (Piaget dalam Kirkorian et al., 2008). Imajinasi bukanlah masalah. Yang berbahaya adalah ketika imajinasi tidak diimbangi dengan pengenalan realitas dan pendampingan kognitif dari orang dewasa. Erikson (1968) bahkan menekankan bahwa kegagalan membangun relasi yang suportif pada tahap perkembangan tertentu dapat memicu rasa bersalah, inferioritas, dan kebingungan identitas.
Karena itu, persoalan brainrot sejatinya bukan semata tentang “konten buruk”, melainkan tentang absennya komunikasi yang bermakna di sekitarnya. Anak-anak tidak otomatis mengalami gangguan karena menonton konten absurd. Yang berisiko adalah ketika konsumsi konten tersebut berlangsung secara pasif, tanpa dialog, tanpa refleksi, dan tanpa kehadiran emosional orang dewasa.
Pendekatan yang lebih bijak adalah membangun komunikasi reflektif. Orang tua dapat mengajak anak berbicara tentang apa yang mereka tonton, bukan dengan nada menghakimi, tetapi dengan rasa ingin tahu. Pendekatan ini sejalan dengan temuan Lyu et al. (2024) yang menekankan pentingnya kualitas komunikasi orang tua–anak dalam menjaga kesehatan psikologis dan regulasi emosi anak di era digital.
Dalam konteks yang lebih luas, fenomena brainrot juga tidak bisa dilepaskan dari logika surveillance capitalism. Zuboff (2019) menjelaskan bahwa platform digital bekerja dengan mengekstraksi perhatian pengguna sebagai komoditas. Anak-anak, dengan daya kritis yang belum matang, menjadi kelompok yang paling rentan dalam ekonomi atensi ini. Oleh karena itu, tanggung jawab tidak bisa sepenuhnya dibebankan kepada keluarga. Sekolah, komunitas, dan pembuat kebijakan juga memiliki peran dalam membangun literasi digital yang lebih manusiawi.
Literasi digital tidak cukup hanya mengajarkan cara menggunakan teknologi, tetapi juga bagaimana memaknai konten. Anak perlu diajak berpikir, bukan sekadar menonton. Orang tua perlu diberi ruang belajar, bukan disalahkan. Dan masyarakat perlu berhenti menyederhanakan persoalan dengan stigma “anak zaman sekarang”.
Brainrot adalah gejala zaman. Ia lahir dari pertemuan antara algoritma yang agresif, kelelahan sosial, dan pencarian hiburan instan. Namun masa depan anak tidak ditentukan oleh satu jenis konten. Ia ditentukan oleh kualitas relasi, komunikasi, dan pendampingan yang mereka terima setiap hari.
Ketika anak tertawa tanpa makna di depan layar, mungkin yang mereka cari bukan sekadar hiburan. Bisa jadi, mereka sedang mencari stimulasi, perhatian, atau rasa aman. Tugas orang dewasa bukan mematikan tawa itu, melainkan mengubahnya menjadi percakapan. Dari sanalah pendidikan digital yang sesungguhnya dimulai.
Penulis: Aprilia Nugraheni (Dosen Ilmu Komunikasi, Universitas Pamulang)
