Dalam hampir setiap organisasi mahasiswa (ORMAWA), dinamika hubungan antara ketua dan sekretaris sering kali menjadi "konflik abadi" yang terus berulang dari periode ke periode. Ketua biasanya dipandang sebagai motor penggerak visi organisasi, sementara sekretaris berperan sebagai pengatur ritme administratif dan tata kelola internal. Namun, justru pada perbedaan peran inilah gesekan sering muncul.
Ketua kerap dianggap terlalu fokus pada gagasan besar dan program kerja, sehingga melupakan detail teknis administratif. Sebaliknya, sekretaris merasa perannya diremehkan hanya sebatas "tukang catat", padahal ia adalah penjaga alur formal organisasi. Pertemuan keduanya kadang bukan melahirkan sinergi, melainkan tarik-menarik antara ide besar dan keteraturan prosedur.
Fenomena ini sejatinya tidak unik di level mahasiswa. Robbins dan Judge (2019) dalam Organizational Behavior menegaskan bahwa konflik sering muncul bukan karena perbedaan tujuan, melainkan karena perbedaan persepsi dan gaya kerja antarindividu. Dalam konteks ini, ketua dan sekretaris membawa gaya kepemimpinan dan preferensi kerja yang berbeda, yang jika tidak dikelola akan menimbulkan friksi.
Sementara itu, penelitian De Dreu & Weingart (2003) menunjukkan bahwa konflik dalam organisasi bisa berdampak positif bila dikelola dengan baik, karena dapat meningkatkan kualitas keputusan melalui adanya pertukaran perspektif. Dengan kata lain, konflik abadi antara ketua dan sekretaris bukanlah masalah selama mampu diarahkan menjadi ruang dialektika yang produktif.
Jika dibiarkan, konflik ini hanya akan melahirkan dua skenario buruk: organisasi yang penuh gebrakan tapi kacau dokumentasi, atau organisasi yang rapi di atas kertas tetapi miskin aksi. Padahal, keberhasilan ORMAWA justru ditentukan oleh keseimbangan keduanya: ide besar yang dijalankan dengan tertib administrasi.
Maka, konflik abadi ini seharusnya tidak dipandang sebagai musibah, melainkan sebagai ruang belajar kepemimpinan. Ketua belajar menghargai detail, sekretaris belajar memahami visi besar. Keduanya bukan sekadar jabatan, melainkan latihan harmoni antara kepemimpinan dan tata kelola.
Dengan demikian, ORMAWA yang sehat adalah organisasi yang tidak lagi terjebak dalam perseteruan ego jabatan, melainkan menjadikan perbedaan peran sebagai energi kolektif. Ketua dan sekretaris memang berbeda, tetapi tanpa keduanya, organisasi hanyalah nama tanpa arah.
Disclaimer
Tulisan ini adalah opini penulis yang disusun berdasarkan literatur akademik dan pengalaman umum di organisasi mahasiswa. Pandangan yang tertuang tidak mewakili kebijakan resmi atau sikap institusi/organisasi manapun.
Sumber Bacaan
- Robbins, S. P., & Judge, T. A. (2019). Organizational Behavior (18th ed.). Pearson.
- De Dreu, C. K. W., & Weingart, L. R. (2003). Task versus relationship conflict, team performance, and team member satisfaction: A meta-analysis. Journal of Applied Psychology, 88(4), 741–749. https://doi.org/10.1037/0021-9010.88.4.741
