GEMA NUSANTARA

GERAKAN MEDIA ANAK BANGSA NUSANTARA

Subscribe
Ketika Media Sosial Mengubah Cara Mahasiswa Menilai Kesuksesan

“Cuma nongkrong bentar” sering kali berubah jadi ajang pamer gaya hidup di media sosial. Sekarang, banyak mahasiswa lebih sibuk memikirkan feed Instagram, outfit kekinian, atau tempat estetik dibandingkan dengan kebutuhan sebenarnya. Melihat teman tampil mewah di TikTok dan Instagram membuat sebagian mahasiswa merasa harus ikut terlihat keren agar tidak dianggap kurang gaul. Akhirnya, budaya flexing perlahan menjadi kebiasaan baru di lingkungan kampus. Yang lebih mengkhawatirkan, tidak sedikit mahasiswa rela memaksakan diri demi pengakuan sosial, meskipun isi dompet sebenarnya sedang tidak baik-baik saja.

Budaya flexing semakin berkembang karena media sosial memberikan ruang bagi semua orang untuk menunjukkan kehidupan pribadinya. Tidak sedikit mahasiswa yang akhirnya merasa harus mengikuti tren agar tidak dianggap kurang gaul atau tertinggal dari teman-temannya. Akibatnya, banyak mahasiswa lebih mementingkan penampilan dibanding kebutuhan yang sebenarnya lebih penting.

Kondisi seperti ini menjadi masalah karena mahasiswa berada pada fase belajar membangun masa depan. Jika terlalu fokus mengejar pengakuan sosial, mahasiswa bisa kehilangan fokus terhadap pendidikan dan pengembangan diri. Bahkan tidak sedikit yang akhirnya mengalami masalah keuangan akibat gaya hidup yang dipaksakan.

Budaya flexing sebenarnya lahir dari kebutuhan manusia untuk diakui oleh lingkungan sosial. Namun, di era digital saat ini, kebutuhan tersebut berkembang secara berlebihan. Banyak orang berlomba-lomba menunjukkan kehidupan terbaiknya tanpa memperlihatkan realita sebenarnya. Hal ini membuat mahasiswa memiliki standar hidup yang tidak realistis.

Salah satu dampak paling nyata adalah munculnya perilaku konsumtif. Mahasiswa menjadi lebih mudah membeli barang berdasarkan keinginan, bukan kebutuhan. Diskon online, tren fashion, hingga gaya hidup selebriti internet semakin memperkuat perilaku tersebut. Padahal, kondisi finansial mahasiswa umumnya masih bergantung pada orang tua.

Selain berdampak pada ekonomi, budaya flexing juga memengaruhi kesehatan mental. Mahasiswa yang terus membandingkan dirinya dengan orang lain dapat mengalami stres, overthinking, hingga rasa tidak percaya diri. Mereka merasa hidupnya kurang berhasil hanya karena tidak mampu tampil mewah di media sosial. Padahal, apa yang terlihat di internet belum tentu sesuai dengan kenyataan.

Fenomena ini juga menunjukkan adanya perubahan makna kesuksesan di kalangan generasi muda. Kesuksesan sering diukur dari barang yang dimiliki, tempat nongkrong, atau jumlah pengikut di media sosial. Padahal, keberhasilan seharusnya lebih dilihat dari kemampuan, karakter, pendidikan, dan kontribusi seseorang terhadap masyarakat.

Di sisi lain, tidak semua penggunaan media sosial berdampak buruk. Jika digunakan secara bijak, media sosial dapat menjadi sarana belajar, membangun relasi, dan mengembangkan kreativitas. Oleh karena itu, yang perlu diperbaiki bukan teknologinya, tetapi cara berpikir penggunanya.

Fenomena flexing dapat dilihat langsung dalam kehidupan mahasiswa sehari-hari. Saat ini banyak mahasiswa lebih memilih menghabiskan uang untuk kebutuhan gaya hidup dibanding menabung atau membeli kebutuhan akademik. Tidak sedikit juga mahasiswa yang rela berutang demi mengikuti tren yang sedang viral.

Selain itu, penggunaan media sosial yang tinggi di kalangan anak muda membuat budaya pamer semakin cepat menyebar. Konten tentang barang mewah, outfit mahal, kendaraan, hingga tempat nongkrong sering mendapatkan perhatian lebih banyak dibanding konten edukasi. Hal tersebut membuat sebagian mahasiswa merasa perlu mengikuti gaya hidup serupa agar dianggap menarik oleh lingkungan sosialnya.

Contoh lainnya adalah meningkatnya kebiasaan membeli barang hanya karena tren sesaat. Banyak mahasiswa membeli produk tertentu karena takut dianggap ketinggalan zaman apabila tidak mengikutinya.

Menurut Jean Baudrillard, masyarakat modern sering kali lebih mementingkan simbol dan pencitraan dibandingkan dengan kebutuhan nyata. Dalam kehidupan saat ini, seseorang membeli barang bukan hanya karena fungsi, tetapi juga demi status sosial dan pengakuan dari lingkungan.

Menurut psikolog sosial Leon Festinger dalam teori social comparison, seseorang akan cenderung membandingkan dirinya dengan orang lain. Akibatnya, media sosial sering membuat mahasiswa merasa kurang percaya diri ketika melihat kehidupan orang lain yang terlihat lebih sempurna.

Mahasiswa perlu mulai memahami bahwa tidak semua yang ada di media sosial harus dijadikan standar hidup. Setiap orang memiliki kondisi ekonomi dan jalan hidup yang berbeda. Karena itu, penting untuk hidup sesuai kemampuan dan tidak memaksakan diri demi gengsi semata.

Selain itu, mahasiswa juga perlu belajar mengatur keuangan dengan baik. Membiasakan diri untuk membedakan kebutuhan dan keinginan dapat membantu mengurangi perilaku konsumtif. Kampus juga bisa memberikan edukasi mengenai literasi keuangan dan dampak media sosial terhadap kesehatan mental mahasiswa.

Penggunaan media sosial pun harus lebih bijak. Mahasiswa sebaiknya menggunakan media sosial untuk hal yang lebih bermanfaat, seperti mencari informasi, menambah wawasan, atau mengembangkan kemampuan diri. Lingkungan pertemanan juga perlu dijaga agar tidak saling mendorong ke arah gaya hidup yang berlebihan.

 Budaya flexing di kalangan mahasiswa merupakan fenomena sosial yang semakin berkembang di era digital. Kehadiran media sosial membuat banyak anak muda terjebak dalam persaingan gaya hidup demi mendapatkan pengakuan dari lingkungan sekitar. Jika tidak disikapi dengan bijak, fenomena ini dapat memunculkan perilaku konsumtif, tekanan mental, hingga masalah finansial.

Mahasiswa sebagai generasi penerus bangsa seharusnya lebih fokus membangun kualitas diri, pendidikan, dan kemampuan yang bermanfaat bagi masa depan. Kesuksesan sejati bukan tentang seberapa mewah penampilan seseorang di media sosial, melainkan bagaimana seseorang mampu berkembang, bermanfaat, dan hidup sesuai kemampuan yang dimiliki.

Yuk, mulai kurangi kebiasaan hidup cuma demi terlihat keren di media sosial. Tidak apa-apa hidup sederhana, selama itu sesuai kemampuan dan membuat kita lebih tenang. Jangan sampai demi gengsi sesaat, kita malah capek sendiri mengejar standar hidup orang lain yang belum tentu nyata.

Penulis :Wulandari Cahya Imayanti

Fakultas ekonomi dan bisnis Universitas pamulang

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *