GEMA NUSANTARA

GERAKAN MEDIA ANAK BANGSA NUSANTARA

Subscribe
Loyalitas atau Ambisi? Dilema Abadi Organisasi Mahasiswa

Loyalitas vs Ambisi: Menjaga Daya Hidup Organisasi Mahasiswa

Organisasi mahasiswa (ormawa) sejak lama menjadi laboratorium kepemimpinan di kampus. Dari sini lahir banyak tokoh bangsa. Namun, belakangan peran ormawa sering dipertanyakan: banyak yang stagnan, kehilangan kader aktif, bahkan vakum setelah satu periode. Apa yang salah?

Jawabannya ada pada ketegangan abadi antara loyalitas dan ambisi. Dua energi ini bisa saling melengkapi, tapi juga bisa saling menghancurkan jika tak dikelola dengan baik.

Ambisi: Motor atau Bumerang?

Ambisi seorang pemimpin muda bisa jadi motor penggerak organisasi. Dengan ambisi, lahir program-program baru dan organisasi tak hanya terjebak rutinitas. Seperti dikatakan Burns (1978), “Pemimpin transformasional tidak sekadar mengelola, tetapi menginspirasi dan memberi arah nilai kolektif.”

Namun, ambisi juga bisa berbalik arah. Banyak ormawa hancur bukan karena kurang ide, melainkan karena konflik internal yang dipicu perebutan posisi. Ambisi yang salah arah menjadikan organisasi sekadar panggung politik kecil, bukan ruang belajar kepemimpinan.

Loyalitas: Pondasi yang Rapuh

Di sisi lain, loyalitas kader adalah fondasi organisasi mahasiswa. Loyalitas membuat anggota tetap setia meski tidak memegang jabatan inti. Machiavelli (1532) mengingatkan, “Kekuasaan tanpa loyalitas adalah kekuasaan yang rapuh.”

Penelitian Mulia & Maharani (2023) pada HMI Cabang Palembang menunjukkan bahwa komunikasi internal, pelatihan kader (LK-2), dan hubungan antar generasi merupakan faktor penting yang membangun loyalitas anggota. Tanpa loyalitas kader, organisasi akan mudah terfragmentasi.

Krisis Kaderisasi Ormawa

Krisis loyalitas dan ambisi ini terlihat nyata di lapangan. Penelitian Zubaidi & Syafakhorrahman (2024) menegaskan pentingnya capacity building dalam organisasi mahasiswa untuk menghadapi tantangan era digital, karena banyak ormawa yang hanya menjalankan kegiatan administratif tanpa regenerasi nilai.

Fenomena serupa ditunjukkan dalam studi Mutmainah (2019) tentang regenerasi KAMMI di Universitas Tadulako, yang memperlihatkan bahwa tanpa pola komunikasi organisasi yang jelas, kaderisasi mudah terputus begitu pengurus inti lulus.

Menyeimbangkan Loyalitas dan Ambisi

Solusinya ada pada kepemimpinan yang sehat. Kepemimpinan bukan sekadar memberi perintah, melainkan menanamkan nilai, membangun arah, dan menginspirasi kader. Muhammad Ikhsan (2024) melalui studi tentang PMII di IAIN Lhokseumawe menekankan bahwa strategi komunikasi pengkaderan yang efektif adalah kunci melahirkan kepemimpinan visioner.

Ambisi harus diarahkan untuk membesarkan organisasi, bukan diri pribadi. Loyalitas harus dijaga melalui kaderisasi berjenjang, dokumentasi organisasi, dan kesempatan kader untuk berkembang. Tanpa itu, loyalitas akan melemah, dan ambisi hanya melahirkan elitisme semu.

Penutup: Miniatur Demokrasi

Organisasi mahasiswa bukan sekadar unit birokrasi kampus, melainkan miniatur demokrasi. Weick (1995) mengingatkan bahwa organisasi yang tangguh adalah yang mampu melakukan sensemaking—memahami perubahan dan beradaptasi. Itu hanya mungkin jika loyalitas dan ambisi dikelola secara seimbang.

Jika keduanya berpadu dengan tepat, ormawa akan menjadi ruang belajar kepemimpinan sejati. Tetapi jika dibiarkan liar tanpa kendali, ormawa hanya akan menjadi panggung sementara yang ditinggalkan waktu.

Pada akhirnya, pilihan ada di tangan mahasiswa hari ini: menjadikan organisasi mahasiswa ruang kaderisasi yang berkelanjutan, atau membiarkannya sekadar catatan pinggir dalam sejarah kampus.

Catatan Redaksi Gema

Tulisan ini merupakan opini pribadi penulis. Seluruh isi, data, dan analisis menjadi tanggung jawab penulis dan tidak selalu mencerminkan sikap resmi redaksi Gema (Gerakan Media Anak Bangsa).

Disclaimer

Tulisan ini tidak dimaksudkan untuk menyerang, merugikan, atau menyinggung pihak manapun. Artikel ini bersifat refleksi konseptual tentang fenomena organisasi dalam konteks manajemen. Jika terdapat pihak yang merasa dirugikan, redaksi akan melayani hak jawab dan hak koreksi sesuai dengan ketentuan UU Pers No. 40 Tahun 1999.

Catatan Sumber

  • Burns, J. M. (1978). Leadership. New York: Harper & Row.
  • Machiavelli, N. (1532). The Prince. Florence.
  • Weick, K. (1995). Sensemaking in Organizations. Sage.
  • Mulia, J. B., & Maharani, D. (2023). Pola komunikasi organisasi HMI Cabang Palembang dalam membangun loyalitas anggota. Jurnal Warda, UIN Raden Fatah Palembang.
  • Zubaidi, A., & Syafakhorrahman, M. (2024). Peningkatan kapasitas organisasi mahasiswa dalam menghadapi tantangan era digital melalui capacity building. SINAR: Sinergi Pengabdian dan Inovasi untuk Masyarakat, 1(01), 87–94.
  • Mutmainah. (2019). Membership regeneration of Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI) (case study of organizational communications in Tadulako University’s Al Ghurobah commisariat). Social Humanity: Jurnal Ilmu Sosial dan Humaniora, 3(1), 44–56. https://doi.org/10.22487/j.sochum.v3i1.1330

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *