Tangerang Selatan – Perkembangan teknologi digital telah mendorong perubahan signifikan dalam pola komunikasi masyarakat, termasuk dalam penyebaran syiar Islam. Dakwah yang sebelumnya identik dengan ceramah di mimbar masjid atau majelis taklim kini bertransformasi mengikuti perkembangan zaman, memanfaatkan media digital sebagai sarana penyampaian pesan keagamaan. Menyadari perubahan tersebut, Tim Dosen Program Studi Ilmu Komunikasi Universitas Pamulang melaksanakan kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) di Pesantren Tahfidzul Qur’an Ar Rahmani pada 1 November 2025.
Kegiatan PKM ini mengusung tema “Pemanfaatan Media Sosial sebagai Sarana Dakwah” dan dirancang sebagai upaya strategis untuk membekali santri dengan keterampilan komunikasi dakwah yang relevan dengan era digital. Tema ini dipilih karena media sosial kini menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan generasi muda, termasuk para santri. Dengan pendekatan yang tepat, media sosial tidak hanya berfungsi sebagai sarana hiburan, tetapi juga dapat menjadi media edukasi dan dakwah yang efektif.
Tim PKM yang terdiri dari Aprilia Nugraheni, S.I.Kom., M.I.Kom. dan Dessy Linda Setiawati, S.I.Kom., M.I.Kom. menyampaikan materi secara interaktif, komunikatif, dan aplikatif. Metode penyampaian yang digunakan menekankan dialog dua arah agar santri tidak hanya menjadi pendengar pasif, tetapi juga terlibat aktif dalam proses pembelajaran. Para dosen menekankan bahwa dakwah di era digital membutuhkan kemampuan komunikasi yang baik, pemahaman audiens, serta kreativitas dalam mengemas pesan agar dapat diterima secara luas.
Pada sesi awal, peserta diberikan pemahaman konseptual mengenai perubahan lanskap dakwah di era digital. Dakwah tidak lagi dibatasi oleh ruang dan waktu, melainkan dapat dilakukan melalui berbagai platform digital yang mampu menjangkau audiens lintas usia, wilayah, dan latar belakang sosial. Dalam konteks ini, santri diposisikan sebagai agen dakwah yang memiliki potensi besar untuk menyebarkan nilai-nilai Islam yang rahmatan lil ‘alamin melalui media sosial.
Dalam pemaparannya, Dessy Linda Setiawati menjelaskan bahwa media sosial dapat berfungsi sebagai “mimbar modern” bagi santri. Menurutnya, gawai yang selama ini digunakan untuk berkomunikasi dan mengakses informasi dapat dioptimalkan sebagai sarana dakwah yang inklusif dan konstruktif. Pesan-pesan kebaikan, nilai moral, serta ajaran Islam dapat disampaikan secara cepat, santun, dan kreatif melalui unggahan positif berupa teks, gambar, maupun video di berbagai platform digital.
Sementara itu, Aprilia Nugraheni menyoroti peningkatan signifikan jumlah pengguna media sosial di Indonesia sebagai peluang besar bagi pengembangan dakwah digital. Kondisi ini membuka ruang bagi santri untuk tampil sebagai Da’i Digital yang mampu menyampaikan pesan keislaman dengan bahasa yang sederhana, relevan, dan sesuai dengan karakter audiens masa kini. Ia menekankan bahwa dakwah digital menuntut kemampuan adaptasi, terutama dalam memahami tren komunikasi dan perilaku pengguna media sosial.
Kegiatan PKM ini tidak hanya berfokus pada aspek teoritis, tetapi juga menekankan praktik langsung agar santri memiliki pengalaman konkret. Salah satu materi yang diberikan adalah pelatihan public speaking, yang mencakup teknik pengendalian rasa gugup (control nervous), penguasaan panggung, artikulasi suara, serta teknik pernapasan. Pelatihan ini bertujuan untuk meningkatkan kepercayaan diri santri saat menyampaikan pesan dakwah, baik secara langsung di hadapan audiens maupun melalui media rekaman video.
Selain public speaking, santri juga dibekali keterampilan membuat konten dakwah kreatif berbasis media sosial. Dalam sesi praktik, santri diajak merancang dan memproduksi konten sederhana seperti sambung ayat Al-Qur’an, diskusi santai seputar sholat, hingga obrolan inspiratif mengenai pentingnya membaca dan mengamalkan Al-Qur’an dalam kehidupan sehari-hari. Kegiatan ini mendorong santri untuk berpikir kreatif sekaligus bertanggung jawab dalam menyampaikan pesan dakwah.
Melalui pelatihan ini, santri diharapkan tidak hanya berperan sebagai penghafal Al-Qur’an, tetapi juga sebagai komunikator dakwah yang mampu menjembatani nilai-nilai keislaman dengan kebutuhan masyarakat modern. Dakwah digital dipahami bukan sekadar menyampaikan pesan, tetapi juga membangun interaksi yang positif dan dialogis dengan audiens.
Materi literasi digital dan etika bermedia sosial turut menjadi bagian penting dalam kegiatan PKM ini. Santri diberikan pemahaman mengenai pentingnya menjaga etika, verifikasi informasi, serta sikap bijak dalam menggunakan media sosial. Hal ini bertujuan agar pesan dakwah yang disampaikan tidak menimbulkan kesalahpahaman, konflik, maupun ujaran kebencian, serta tetap menjunjung tinggi nilai kesantunan dan moderasi beragama.
Selain itu, santri juga dikenalkan dengan strategi publikasi konten, seperti pemilihan waktu unggah, konsistensi konten, serta pemanfaatan fitur media sosial agar pesan dakwah dapat diterima secara optimal oleh audiens. Dengan strategi yang tepat, dakwah digital diharapkan mampu memberikan dampak positif yang lebih luas dan berkelanjutan.
Kepala Pesantren Tahfidzul Qur’an Ar Rahmani, As’ad, bersama Ibu Saras, menyampaikan apresiasi dan terima kasih atas terselenggaranya kegiatan PKM tersebut. Ia menilai kegiatan ini sangat bermanfaat dalam memperluas wawasan santri mengenai peran dakwah di era digital. Ia berharap pendampingan dari para dosen Universitas Pamulang dapat terus berlanjut sehingga santri memperoleh keterampilan dakwah digital secara konsisten dan mampu menyebarkan nilai-nilai Islam yang teduh, moderat, dan mencerahkan di ruang digital, sejalan dengan semangat Islam yang membawa rahmat bagi seluruh alam.
Penulis : Redaksi Gema Nusantara
Sumber : Aprilia Nugraheni, S.I.Kom., M.I.Kom.
