Di tengah percepatan transformasi digital dan tuntutan ekonomi kreatif, masih banyak kelompok masyarakat yang tertinggal dari arus perubahan. Mereka bukan tidak ingin maju, melainkan belum memiliki bekal yang utuh, bukan hanya keterampilan ekonomi, tetapi juga karakter dan etika dalam mengelola aktivitas keuangan dan usaha. Sejumlah kajian akademik menegaskan bahwa literasi keuangan yang tidak disertai karakter berpotensi melahirkan perilaku ekonomi yang rapuh dan tidak berkelanjutan (Lickona, 2022; Lusardi & Mitchell, 2014).
PKBM Cipta Cendikia Cipondoh, Tangerang, menunjukkan bahwa pendidikan nonformal mampu mengambil peran strategis dalam menjawab tantangan tersebut. Melalui kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) yang dilaksanakan pada 23–25 Oktober 2025, diperkenalkan pendekatan Exponential Character Learning (ECL), model pembelajaran yang mengintegrasikan pendidikan karakter, literasi keuangan, dan etika bisnis sosial secara kontekstual.
Pandangan ini sejalan dengan sejumlah opini media yang menyoroti pentingnya literasi sebagai fondasi perubahan sosial. Seperti disampaikan dalam opini Gema Nusantara, Saithy Salampessy (13 September 2025), “literasi bukan sekadar aspek akademis, tetapi kebutuhan praktis masyarakat dalam menghadapi dinamika sosial, ekonomi, dan teknologi yang semakin kompleks.” Penekanan ini menunjukkan bahwa literasi, termasuk literasi keuangan, tidak dapat dilepaskan dari pembentukan karakter dan kesadaran etis dalam kehidupan sehari-hari.
Secara akademik, pendidikan karakter dipahami sebagai proses pembentukan pribadi utuh melalui dimensi moral knowing, moral feeling, dan moral action (Lickona, 2017). Dalam konteks ekonomi, ketiga dimensi tersebut menentukan bagaimana individu mengelola uang, mengambil risiko, serta bertindak etis dalam relasi bisnis. Inilah fondasi utama yang ingin dibangun melalui model ECL di PKBM.
Kegiatan PKM ini menghadirkan tiga narasumber dengan peran keilmuan yang saling melengkapi. Iman Lubis, S.E., M.S.M., sebagai narasumber literasi keuangan, menekankan bahwa literasi keuangan adalah kemampuan membuat keputusan ekonomi yang bijak dan bertanggung jawab, bukan sekadar kemampuan menghitung laba atau menabung. Pandangan ini sejalan dengan Lusardi dan Mitchell (2014) yang menyebut literasi keuangan sebagai determinan penting kesejahteraan individu dan ketahanan ekonomi rumah tangga.
Sementara itu, Prama Indra Ishwara, S.E., M.M., sebagai narasumber etika bisnis, menegaskan bahwa setiap aktivitas ekonomi selalu mengandung dimensi moral. Tanpa etika, kecakapan bisnis justru berpotensi merusak tatanan sosial. Gagasan ini sejalan dengan konsep social business yang dikemukakan Yunus (2019), yang menempatkan nilai kemanusiaan dan keberlanjutan sosial sebagai inti aktivitas ekonomi.
Adapun Joko Prasetiyo, S.Pd., M.Pd., sebagai narasumber pendidikan berkarakter, menekankan bahwa karakter tidak cukup diajarkan secara normatif, tetapi harus dibentuk melalui pengalaman nyata dan refleksi berulang. Pendekatan ini sejalan dengan teori experiential learning (Kolb, 1984) serta konsep kecerdasan sosial-emosional yang menekankan kesadaran diri dan pengambilan keputusan bertanggung jawab (Goleman, 1995).
Model Exponential Character Learning bergerak melalui siklus pembelajaran berulang: kesadaran nilai, pengalaman ekonomi nyata, refleksi, kolaborasi sosial, amplifikasi melalui media digital, dan keberlanjutan komunitas. Disebut eksponensial karena setiap siklus pembelajaran memperkuat karakter dan kompetensi ekonomi secara simultan. Pendekatan ini sejalan dengan kerangka Social Emotional Learning yang dikembangkan CASEL (2020), yang menegaskan bahwa pengambilan keputusan bertanggung jawab merupakan inti dari perilaku sosial dan ekonomi yang sehat.
Bagi peserta didik PKBM yang mayoritas berasal dari latar belakang ekonomi menengah ke bawah, pendekatan ini terasa membumi. Simulasi usaha sederhana, proyek kolaboratif “Pasar Karakter”, dan pencatatan keuangan dasar menjadi ruang belajar nyata. Di sinilah nilai kejujuran, tanggung jawab, dan empati dipraktikkan secara langsung, sebagaimana ditegaskan Gema Nusantara( Iman Lubis, 2025) bahwa amanah diuji oleh keadaan, bukan dipelihara oleh ego yang gelisah.
Dari proses tersebut lahir konsep karakterpreneur, yaitu individu yang berjiwa usaha tetapi berakar kuat pada nilai moral dan kepedulian sosial. Karakterpreneur bukan sekadar pelaku ekonomi kecil, melainkan aktor sosial yang menyadari bahwa keuntungan finansial harus berjalan seiring dengan tanggung jawab etis. Konsep ini sejalan dengan tujuan pembangunan berkelanjutan (SDGs), khususnya pendidikan berkualitas dan pertumbuhan ekonomi yang inklusif.
Pengalaman PKBM Cipta Cendikia menegaskan bahwa pembangunan manusia tidak cukup hanya mengandalkan pelatihan teknis atau bantuan modal. Literasi keuangan tanpa karakter berisiko kehilangan arah, sementara pendidikan karakter tanpa konteks ekonomi kehilangan relevansi praktis. Integrasi keduanya, seperti yang ditawarkan melalui Exponential Character Learning, menjadi jalan sunyi namun berdampak nyata dalam membangun ekonomi berbasis nilai.
Pada akhirnya, membangun ekonomi yang adil dan berkelanjutan tidak selalu dimulai dari kebijakan besar atau investasi raksasa. Ia dapat tumbuh dari ruang-ruang sederhana seperti PKBM, melalui pendidikan yang menanamkan karakter, literasi, dan etika sekaligus. Dari sanalah karakterpreneur dilahirkan, dan dari sanalah harapan akan ekonomi yang lebih manusiawi dibangun.
Penulis : Redaksi Gema Nusantara
