Penulis: Farros Farsya Azkadhiwa
(Mahasiswa S1 Teknik Industri, Universitas Pamulang)
Pendahuluan: Ketika Menjadi Kenyataan yang Pahit
April 2025 semula digadang-gadang sebagai periode emas bagi kendaraan listrik di Indonesia. Penjualan meningkat, pembiayaan mengalir, dan optimisme memenuhi ruang pamer kendaraan masa depan. Namun di tengah euforia itu, muncul kabar mengejutkan: Neta Motors menutup dealer pertamanya di Kelapa Gading, Jakarta Utara, secara permanen (CNN Indonesia), Namun, fenomena perang harga EV China juga telah membuat mobil listrik lebih terjangkau dan mempercepat adopsi oleh kelas menengah Indonesia, sebuah dinamika yang patut dihormati (GEMA NUSANTARA)
Dealer yang diresmikan pada 9 November 2023 itu belum genap dua tahun beroperasi. Area seluas 1.628 m² yang dilengkapi fasilitas penjualan, perawatan, dan suku cadang kini sunyi. Tidak ada aktivitas, tidak ada unit pajang—hanya kesenyapan. Cerita kian muram ketika pada September 2025 dealer Neta di Puri Indah beralih menjadi dealer XPeng. Jaringan Neta di Indonesia runtuh perlahan bak domino. Yang lebih mengkhawatirkan, penutupan serupa terjadi di Singapura, dealer Neta di sana tutup setelah hanya tiga bulan beroperasi sejak Januari 2025.
Ini bukan sekadar kisah kegagalan satu merek. Ini alarm keras bagi ekosistem kendaraan listrik Indonesia. Artikel ini membedah kronologi, dampak, dan pelajaran penting dari kasus Neta—sebelum terlambat.
Kronologi Keruntuhan: Dari Harapan ke Krisis
Awal yang Menjanjikan
Neta Auto lahir dari Hozon Auto (2018), mengusung semangat inovasi. Masuk Indonesia Agustus 2023 lewat Neta V, disusul Neta V-II (Mei 2024) dan Neta X (GIIAS Juli 2024). Produksi lokal di PT Handal Indonesia Motor, Bekasi, mengirim sinyal komitmen serius.
Retak Pertama: Penjualan Anjlok
Data penjualan tersebut merujuk pada laporan resmi Gaikindo, yang mencatat bahwa sepanjang Januari hingga Maret 2025 penjualan grosir Neta hanya mencapai 198 unit, sementara penjualan ritel tercatat 155 unit. Angka ini kontras dengan performa merek lain seperti BYD yang, berdasarkan laporan industri otomotif nasional, mampu menjual lebih dari 9.000 unit pada periode yang sama.
Badai dari China
Krisis yang melanda Neta di negara asalnya bukan sekadar rumor pasar. Sejumlah media internasional, termasuk Reuters, melaporkan pada Maret–Juni 2025 bahwa Zhejiang Hozon New Energy Automobile menghadapi tekanan keuangan serius hingga memasuki proses kebangkrutan, setelah gagal memenuhi kewajiban pembayaran kepada sejumlah kreditor.
Di negara asal, krisis keuangan memuncak: Maret 2025 tim R&D dibubarkan, ratusan karyawan hengkang. Penjualan domestik ambruk, turun 98% YoY di Januari; Februari <400 unit. Skala ini tak sebanding dengan raksasa yang menjual ratusan ribu unit per bulan.
Keputusan Sulit: Menutup Dealer
Manajemen menyebut penutupan sebagai “penyesuaian operasional”. Namun fakta di lapangan, dealer beralih merek dan jumlah gerai menyusut, menunjukkan tekanan serius.
Proses Kebangkrutan
Juni 2025, Zhejiang Hozon New Energy Automobile memasuki proses kebangkrutan. Kerugian tiga tahun mencapai 18,3 miliar yuan (~Rp39 triliun). Valuasi merosot ~80%. Suntikan dana pun gagal menyelamatkan. Informasi mengenai proses kebangkrutan ini juga dikonfirmasi oleh media nasional China seperti CCTV, yang menyebutkan bahwa salah satu kreditor utama mengajukan permohonan pailit akibat tagihan pameran yang tidak dibayarkan.
Nasib Pemilik Kendaraan Neta
Berdasarkan data distribusi kendaraan listrik yang dihimpun oleh Gaikindo, hingga Mei 2025 sebanyak 941 unit kendaraan listrik Neta telah terjual dan digunakan oleh masyarakat Indonesia. Janji garansi dan layanan purna jual tetap berlaku, namun pertanyaan kuncinya: siapa yang membiayai komitmen itu jika induk bangkrut?
Dengan dealer menyusut, jarak ke bengkel resmi makin jauh. Ketersediaan suku cadang menjadi tanda tanya besar bila rantai pasok terganggu. Risiko terburuk: kendaraan menganggur berbulan-bulan menunggu komponen yang tak kunjung datang.
Nilai Jual Kembali: Terjun Bebas
Depresiasi EV stabil saja ~27%. Pada merek yang dealer-nya tutup dan induk bangkrut, penurunan bisa 50–60% atau lebih. Likuiditas pasar mobil bekas EV, yang sejak awal rendah, nyaris lenyap.
Analisis: Mengapa Neta Gagal
- Strategi Bisnis Keliru – Fokus B2B mengorbankan fondasi ritel dan loyalitas merek.
- Ekspansi Terlalu Cepat – Internasionalisasi tanpa arus kas stabil mempercepat pembakaran kas.
- Persaingan Super Ketat – Skala, efisiensi, dan kekuatan merek pesaing jauh di atas.
Respons Neta Indonesia: Jaminan vs Kenyataan
Pernyataan resmi menyebut operasi lokal aman dan produksi berjalan. Namun realitas, penutupan dealer, penjualan melemah, dan kebangkrutan induk, membuat klaim kemandirian sulit diyakini. Ketergantungan pada pusat (produk, suku cadang, pendanaan) tak terelakkan.
Kesimpulan: Alarm bagi Ekosistem EV
Kasus Neta adalah peringatan keras. Bagi 941 keluarga pemilik, ini soal nilai aset, layanan, dan kepastian. Bagi calon pembeli, ini memicu keraguan luas yang menyebar lebih cepat dari iklan mana pun, menggerus kepercayaan pada EV secara keseluruhan.
Indonesia berada di titik kritis: menjadi pusat regional EV atau kuburan merek yang over-promise. Pelajarannya jelas, beralih dari mengejar volume ke keberlanjutan, dari euforia ke realisme, dari penjualan ke orientasi pelanggan, dan dari jangka pendek ke nilai jangka panjang.
Intinya: Elektrifikasi butuh fondasi purna jual, tata kelola, dan ketahanan finansial. Tanpa itu, mimpi hijau mudah berubah menjadi kenyataan pahit.
Editor: Redaksi GEMA NUSANTARA
