GEMA NUSANTARA

GERAKAN MEDIA ANAK BANGSA NUSANTARA

Subscribe
Inovasi Membantu UMKM Jajanan Kaki Lima Bertahan dalam Persaingan Industri Kuliner

Jajanan kecil dan menengah (UMKM) di pinggir jalan, yang
sering menjadi bagian penting dari kehidupan masyarakat Indonesia, kini
semakin menunjukkan ketahanan dan kemampuan mereka untuk beradaptasi
dengan perubahan yang terjadi di industri kuliner. Para pelaku UMKM
jajanan, yang termasuk dalam kategori usaha kecil dengan lokasi
sederhana, mampu memanfaatkan peluang baru untuk bertahan dan
berkembang, seperti mengembangkan produk baru dan mengadaptasi teknologi
digital. Fenomena ini jelas terlihat di banyak tempat, di mana
pedagang jajanan mulai mengubah metode mereka untuk menyesuaikan diri
dengan perubahan pola konsumsi masyarakat.Jajanan kecil
mengalami peningkatan permintaan dalam beberapa tahun terakhir.
Masyarakat masih menyukai berbagai makanan, mulai dari : 1. Bakso 

Bakso (Foto Penulis)

2. Sate Padang

Sate Padang (Foto Penulis)

3. Dimsum Mentai 

Dimsum Mentai (Foto Penulis)

4. Pempek

Pempek (Foto Penulis)

hingga berbagai makanan tradisional. Hal ini disebabkan oleh harganya yang terjangkau, rasanya yang unik, dan kemudahan akses ke toko di jalan, sekolah, pabrik, dan perkantoran. Jajanan pinggir jalan masih memiliki pasar yang stabil karena kebutuhan masyarakat untuk makanan praktis, cepat, dan murah.

Namun, industri jajanan pinggir jalan menghadapi banyak masalah. Ketika harga bahan baku seperti minyak goreng, tepung, daging, dan kemasan meningkat, bisnis kecil dan menengah (UMKM) seringkali harus mencari cara untuk mempertahankan harga yang kompetitif tanpa mengurangi kualitas rasa. Pedagang mulai melakukan perubahan, seperti mengubah ukuran porsi, menggunakan bahan baku alternatif yang lebih murah, dan membuat menu baru untuk tetap menarik pelanggan. Langkah ini telah terbukti bermanfaat bagi banyak pedagang dalam menghadapi tekanan ekonomi yang meningkat.

Sektor usaha kecil dan menengah (UMKM) jajanan mulai melihat adopsi teknologi. Semakin banyak pedagang pinggir jalan yang menggunakan platform online untuk memasarkan barang mereka. Mereka mempromosikan produk mereka melalui foto, video, dan ulasan konsumen menggunakan media sosial seperti Instagram, Facebook, dan TikTok. Karena kontennya yang inovatif, banyak jajanan yang menjadi viral dan menarik pelanggan lebih dari sekedar pengunjung biasa.

Selain itu, beberapa pedagang UMKM yang menjual jajanan mulai bekerja sama dengan layanan pesan antar seperti GoFood, GrabFood, dan ShopeeFood. Kolaborasi ini memungkinkan pedagang yang sebelumnya hanya bergantung pada pelanggan lokal untuk menjangkau pelanggan dari daerah lain. Bahkan, banyak gerobak jajanan kini menggunakan stiker QRIS untuk membayar pelanggan, menunjukkan bahwa usaha kecil dan menengah (UMKM) pinggir jalan mulai berpartisipasi dalam ekosistem ekonomi digital.

Pelaku usaha jajanan ini juga mendapat perhatian dari pemerintah dan komunitas yang mendukung UMKM. Pelatihan meliputi manajemen bisnis, menjaga kualitas makanan, pengelolaan keuangan, dan pembuatan kemasan yang lebih menarik dan higienis. Upaya ini dilakukan untuk membantu usaha kecil dan menengah (UMKM) jajanan tetap bersaing dengan produsen makanan skala besar yang memiliki lebih banyak modal dan fasilitas. Pemerintah daerah juga menawarkan tempat usaha yang lebih tertata di beberapa kota untuk memastikan pedagang jajanan tetap nyaman dan bersih.

Pelaku UMKM jajanan jalanan terus menunjukkan semangat dan inovasi mereka meskipun mereka menghadapi berbagai tantangan. Banyak dari mereka bahkan berhasil berkembang dari gerobak kecil menjadi kedai tetap. Pelaku usaha kecil dan menengah (UMKM) terus mengembangkan menu jajanan lokal, seperti kebab mini, minuman boba lokal, dan jenis gorengan modern, yang kini semakin populer. Bisnis kecil dan menengah (UMKM) jajanan di pinggir jalan industri diperkirakan akan tetap menjadi sektor yang menjanjikan untuk masa depan. UMKM jajanan memiliki peluang besar untuk mempertahankan eksistensinya sebagai bagian dari budaya kuliner masyarakat Indonesia sekaligus memperluas pasar dengan dukungan digitalisasi, peningkatan kualitas produk, dan inovasi yang terus-menerus. Mereka tidak hanya menyediakan makanan, tetapi juga memajukan ekonomi kerakyatan, yang berkontribusi pada stabilitas perdagangan lokal.

Selain itu, seiring meningkatnya kesadaran akan pentingnya standar kebersihan dan keamanan pangan, para pelaku UMKM jajanan menjadi lebih profesional. Untuk menjaga kualitas produk, banyak pedagang kini mulai menggunakan sarung tangan, masker, dan kemasan higienis. Mereka yang mengikuti pelatihan sertifikasi pangan juga dapat menunjukkan kepada konsumen bahwa produk mereka layak dibeli. Perubahan ini menunjukkan bahwa UMKM jajanan pinggir jalan sedang berusaha meningkatkan kualitas layanan dan penjualan. Dengan mempertahankan standar tersebut, UMKM diharapkan dapat bersaing dengan lebih adil dalam industri kuliner yang terus berkembang pesat.

Penulis : Alya Sausan Dwiarjo

Asal Daerah : Bogor 

Profesi : Mahasiswa Teknik Industri - Universitas Pamulang

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *