Penulis : Andika Rachman (Mahasiswa Universitas Pamulang)
Editor : Redaksi Gema Nusantara
Situasi pasar otomotif Indonesia sepanjang 2024–2025 mengalami perubahan drastis. Showroom kini dipenuhi merek-merek baru asal Tiongkok seperti BYD, Wuling, dan Chery yang menawarkan harga agresif, terutama di segmen mobil listrik (electric vehicle/EV) yang dulunya identik sebagai barang mewah dengan banderol di atas Rp700 juta, kini tersedia luas di rentang Rp200–300 jutaan dengan fitur tetap canggih. Perang harga EV ini menciptakan paradoks: di satu sisi menjadi surga bagi konsumen pencari teknologi murah, namun di sisi lain menimbulkan alarm bahaya bagi ekosistem industri otomotif nasional, terutama bagi pemain lama dan para pemasok komponen lokal.
Latar Belakang: Peta Pertarungan
Dominasi Baru
Selama puluhan tahun, pasar otomotif Indonesia dikuasai pabrikan Jepang seperti Toyota dan Honda dengan reputasi keandalan, jaringan purna jual kuat, dan efisiensi operasional yang tinggi. Namun dalam 2025, data Gaikindo menunjukkan bahwa merek-merek China semakin signifikan hadir di pasar nasional: BYD mencatat penjualan lebih dari 20.000 unit, sementara Wuling dan Chery masing-masing mencatat lebih dari 8.000–15.000 unit penjualan hingga September 2025, memberi sinyal perubahan preferensi konsumen dari merek klasik ke merek baru yang menawarkan nilai lebih besar terhadap harga. (GAIKINDO)
Strategi Harga: Bakar Uang atau Efisiensi Rantai Pasok?
Harga murah EV China sering dituduh sebagai praktik “bakar uang”, tapi sebenarnya didorong oleh strategi industri yang lebih sistemik: produsen China menikmati dukungan subsidi, menguasai rantai pasok baterai secara terintegrasi, dan memanfaatkan oversupply di pasar domestik China untuk ekspor agresif ke negara berkembang. Di Indonesia, kebijakan insentif bea masuk dan PPnBM yang rendah sempat diberikan untuk menarik investor EV, tetapi pemerintah akan menghentikannya per 31 Desember 2025 untuk mendorong produksi lokal (GAIKINDO).
Data Pasar 2025
Tren penjualan EV terus naik signifikan. Data wholesales Gaikindo menunjukkan distribusi EV mencapai 82.525 unit sepanjang Januari–November 2025, dengan pangsa pasar EV mencapai sekitar 11,6 persen dari total pasar kendaraan nasional. (GAIKINDO)
Sudut Pandang 1: Keuntungan Konsumen
Aksesibilitas
Mobil listrik kini menjadi pilihan logis bagi konsumen kelas menengah, bukan lagi sekadar simbol status bagi kelompok berpenghasilan tinggi. Rentang harga Rp200–300 jutaan membuat EV lebih mudah diakses banyak lapisan masyarakat.
Percepatan Adopsi
Dengan harga kompetitif, anggapan bahwa EV lebih mahal daripada mesin bensin tradisional mulai runtuh. Transisi menuju energi hijau pun dipercepat karena selisih harga awal (initial cost) semakin sempit.
Fitur Berlimpah
Konsumen kini mendapatkan value for money lebih tinggi: baterai modern, fitur keselamatan aktif, sistem semi-otonom, dan interior futuristik sering hadir bahkan dalam model harga terjangkau dibandingkan mobil konvensional.
Sudut Pandang 2: Ancaman Industri Lokal
Isu TKDN
Pertanyaan krusial muncul: seberapa dalam kandungan lokal EV murah ini? Banyak kendaraan masih dirakit secara CKD (completely knocked down) dengan komponen utama seperti baterai dan sistem elektronik masih diimpor mentah dari China. Kebijakan pemerintah memaksa produsen EV untuk meningkatkan TKDN minimal 40% pada rentang 2026–2027 dan lebih tinggi lagi ke depan, tetapi pencapaian ini masih menjadi tantangan berat. (GAIKINDO)
Nasib IKM Komponen
IKM komponen lokal (Tier 2 & Tier 3) yang telah lama menyuplai pabrikan Jepang berada dalam posisi rentan: jika merek China membawa rantai pasok mereka sendiri dan hanya mengandalkan perakitan sederhana di Indonesia, para pemasok lokal bisa kehilangan pangsa pasar dan mengalami penurunan aktivitas produksi.
Risiko Deindustrialisasi
Tanpa transfer teknologi dan penguatan kapasitas R&D, Indonesia berisiko hanya menjadi pasar konsumsi besar dan lokasi perakitan sederhana, sehingga nilai tambah manufaktur nasional tetap rendah.
Peran Pemerintah & Regulasi: Penengah di Medan Perang
Insentif vs Proteksi
Pemerintah mencoba menyeimbangkan antara menarik investasi EV melalui insentif (misalnya PPnBM rendah dan pembebasan ganjil-genap) dengan kebutuhan untuk mempertahankan industri komponen dalam negeri. Kebijakan untuk menghentikan izin impor EV utuh (CBU) per akhir 2025 adalah salah satu upaya untuk memperkuat produksi lokal. (Oto)
Syarat Investasi
Target pemerintah tetap menjadikan Indonesia sebagai basis produksi EV global dengan target produksi 600.000 unit pada 2030, serta mendorong keterlibatan komponen lokal dalam rantai pasok EV. “Pemerintah Indonesia telah menetapkan target produksi electric vehicle (EV) pada tahun 2030 sebesar 600.000 unit,” kata Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita dalam kesepakatan dengan produsen otomotif China — sebuah langkah strategis untuk menjadikan Indonesia sebagai hub basis produksi EV di kawasan. (GAIKINDO)
Penutup & Prediksi
Perang harga EV adalah pedang bermata dua: konsumen jelas diuntungkan, tetapi industri lokal menghadapi tekanan besar. Ke depan, kemungkinan akan terjadi konsolidasi pasar (merek kecil tumbang) atau pemain mapan seperti Jepang turut banting harga atau mempercepat elektrifikasi produk mereka. Namun hal yang tak boleh dilupakan: Indonesia perlu memastikan dirinya bukan hanya target pasar, tetapi basis produksi dan pusat rantai pasok EV untuk memaksimalkan nilai tambah nasional.
