GEMA NUSANTARA

GERAKAN MEDIA ANAK BANGSA NUSANTARA

Subscribe
Kepemimpinan dan 6 Rukun Iman: Membaca Ulang Tantangan Organisasi melalui Hasyim Asy’ari, Donald Schön, dan Kees Dorst

Dalam diskursus kepemimpinan modern, nilai moral sering kali tertinggal di belakang logika manajerial. Padahal, sebagaimana ditegaskan Northouse (2023), “leadership is fundamentally a moral process because it always involves influence and responsibility.” Ketika nilai moral hilang, kepemimpinan kehilangan arah.

Dengan membaca kembali nilai, khususnya 6 rukun iman, melalui perspektif KH. Hasyim Asy’ari, Donald Schön, dan Kees Dorst, serta menghubungkannya dengan realitas organisasi seperti yang disoroti dalam tiga opini di GEMA NUSANTARA (2025), kita menemukan jembatan kuat antara iman → refleksi → desain kepemimpinan.

1. Iman kepada Allah: Fondasi Moral Kepemimpinan

KH. Hasyim Asy’ari menekankan dalam Adab al-‘Alim wa al-Muta‘allim bahwa pemimpin harus “menjaga amanah sebagai bagian dari ibadah.” Pernyataan ini sejalan dengan gagasan Bass & Steidlmeier (1999), bahwa kepemimpinan transformasional sejati hanya lahir dari moralitas yang kuat.

Opini Organisasi Zombie dari GEMA NUSANTARA (2025) menggambarkan organisasi yang hidup tanpa jiwa. Fenomena ini adalah bukti absennya integritas moral.

Menurut pandangan Hasyim Asy’ari, hilangnya niat lurus (ikhlas) adalah sumber stagnasi. Kepemimpinan yang tidak bertumpu pada iman akan kehilangan energi ruhani untuk menggerakkan perubahan.

2. Iman kepada Malaikat: Disiplin, Transparansi, dan Self-Reflection

Konsep malaikat sebagai pencatat amal dapat dimaknai sebagai simbol akuntabilitas. Dalam dunia kepemimpinan modern, hal ini sejalan dengan reflective practice ala Donald Schön. Dalam The Reflective Practitioner (1983), Schön menulis:
“The effectiveness of professionals depends on their ability to reflect on their actions while acting.”

Opini Dominasi Prodi dalam UKM menunjukkan bagaimana kurangnya akuntabilitas melahirkan dominasi struktural yang tidak sehat. Ketika pemimpin sadar bahwa setiap tindakan “tercatat”, baik secara spiritual maupun administratif, maka ia akan bertindak lebih transparan dan etis.

3. Iman kepada Kitab: Kepemimpinan Berbasis Nilai dan Pedoman

Iman kepada kitab berarti berpegang pada nilai, aturan, dan prinsip moral. Dorst (2015) dalam Frame Innovation menegaskan bahwa pemimpin harus mampu membangun value-based frames untuk memecahkan masalah kompleks.

Fenomena Kritik Tanpa Adaptasi di GEMA NUSANTARA (2025) menunjukkan bagaimana kritik yang tidak berlandaskan nilai atau pedoman yang jelas justru menciptakan kebisingan organisasi.

Hasyim Asy’ari memandang kitab sebagai sumber akhlak; Dorst melihatnya sebagai sumber framing. Kedua perspektif ini bertemu pada titik bahwa pemimpin harus memegang pedoman moral yang stabil di tengah dinamika organisasi.

4. Iman kepada Rasul: Keteladanan dan Kepemimpinan Transformasional

Para nabi adalah figur kepemimpinan ideal. Ini diperkuat oleh Greenleaf (1977) yang menyatakan, “The great leader is first experienced as a servant.” Rasul menjadi teladan moral sekaligus teladan pelayanan publik.

Dalam konteks organisasi masa kini, opini Organisasi Zombie menggambarkan ketiadaan role model. Tanpa keteladanan, organisasi kehilangan arah.
Schön menekankan pentingnya pemimpin belajar dari tindakan; Hasyim Asy’ari menekankan akhlak; Dorst menekankan prototipe solusi. Semua bertemu pada pentingnya teladan yang hidup—bukan sekadar jabatan.

5. Iman kepada Hari Akhir: Tanggung Jawab Jangka Panjang

Pemimpin yang percaya pada hari akhir akan membuat keputusan dengan perspektif jangka panjang. Kouzes & Posner (2017) menyebut bahwa pemimpin besar selalu “leave a legacy,” bukan sekadar menyelesaikan masa jabatan.

Dalam Dominasi Prodi dalam UKM, yang dikritik adalah pemimpin yang hanya mengejar kontrol jangka pendek, mengorbankan upaya regenerasi.
Iman kepada hari akhir menuntut seorang pemimpin mempertimbangkan konsekuensi moral dari setiap kebijakan yang diambil.

6. Iman kepada Qadha dan Qadar: Kepemimpinan Adaptif dan Problem-Solving

Iman kepada takdir bukanlah pasrah, tetapi kemampuan memahami perubahan sebagai bagian dari proses hidup. Dorst (2015) menyebut bahwa pemimpin harus menciptakan new frames ketika menghadapi situasi baru.

Schön (1983) menyebutnya reflection-in-action: kemampuan beradaptasi sembari bertindak.

Dalam opini Kritik Tanpa Adaptasi, GEMA NUSANTARA menegaskan bahwa organisasi yang tidak mampu beradaptasi akan hancur oleh dinamika internal. Di sinilah iman kepada qadha dan qadar bertemu dengan teori kepemimpinan modern: menerima kenyataan, namun tidak berhenti merancang solusi.

Integrasi: Kepemimpinan Iman-Reflektif-Desain

Dari enam nilai iman dan tiga pemikir besar, kita mendapatkan model kepemimpinan baru yang dapat menjadi jawaban atas krisis organisasi masa kini:

  1. Berbasis nilai – selaras dengan pemikiran Hasyim Asy’ari
  2. Berbasis refleksi profesional – ala Donald Schön
  3. Berbasis inovasi dan desain solusi – ala Kees Dorst

Tiga opini di GEMA NUSANTARA, Organisasi Zombie, Dominasi Prodi dalam UKM, dan Kritik Tanpa Adaptasi, menjadi bukti empiris bahwa krisis kepemimpinan terjadi ketika pemimpin kehilangan satu dari tiga unsur tersebut.

Kolaborasi nilai spiritual, refleksi profesional, dan desain inovatif inilah yang perlu diperkuat untuk membangun organisasi yang bukan hanya berjalan, tetapi hidup, bertumbuh, dan bermakna.

Penulis : Iman Lubis (Dosen Universitas Pamulang)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *