Di tengah hiruk-pikuk wacana mengenai krisis kepemimpinan di berbagai sektor (politik, birokrasi, hingga organisasi sosial) Indonesia seolah melupakan bahwa salah satu sumber kedisiplinan dan manajemen diri terbaik telah berada di jantung peradaban Islam selama lebih dari 14 abad: salat lima waktu. Selama ini salat hanya dipandang sebagai ritus ibadah personal. Padahal, jika dibaca melalui perspektif teori kepemimpinan modern seperti konsep reflection-in-action dari Donald Schön atau frame innovation dari Kees Dorst, salat adalah sistem kepemimpinan yang terstruktur, rutin, dan berfungsi membentuk perilaku manusia setiap hari.
Artikel opini ini mencoba menjawab satu pertanyaan sederhana namun sangat relevan: Apakah salat lima waktu merupakan ritual semata, atau justru sistem kepemimpinan harian yang membentuk disiplin, penguasaan diri, dan kejelasan tujuan?
Penjelasan berikut menggabungkan teori modern, pemikiran kepemimpinan Islam kontemporer, temuan akademik, serta warisan intelektual KH. Hasyim Asy’ari untuk menegaskan bahwa salat lima waktu adalah sekolah kepemimpinan paling mendasar yang dimiliki umat Islam.
Salat sebagai Sistem: Bukan Sekadar Kewajiban Ibadah
Dalam manajemen organisasi, sistem dipahami sebagai seperangkat aturan, mekanisme, dan rutinitas yang menata perilaku individu agar selaras dengan tujuan kolektif. Salat lima waktu bekerja persis demikian: ia menstrukturkan hari seorang muslim dari bangun subuh hingga menjelang tidur. Ini bukan kebetulan, melainkan sebuah rancangan sistemik yang mengatur waktu, ritme, dan pola berpikir.
Kees Dorst dalam bukunya Frame Innovation (2015) menegaskan bahwa sistem yang efektif bukan hanya menata perilaku, tetapi juga mengubah kerangka berpikir. Salat memenuhi dua fungsi ini sekaligus:
- Mengatur perilaku: melalui waktu-waktu salat yang tetap dan tidak berubah.
- Mengatur kerangka pikir: melalui niat, refleksi, dan orientasi tauhid yang diperbarui minimal lima kali sehari.
Dengan kata lain, salat adalah behavioral framework sekaligus cognitive framework.
Donald Schön dalam The Reflective Practitioner (1983) berargumen bahwa pemimpin yang efektif adalah mereka yang rutin berhenti di tengah kesibukan untuk berefleksi (reflection-in-action) dan memperbaiki orientasinya. Bukankah itu yang terjadi dalam salat? Seorang muslim harus menghentikan aktivitasnya—di tengah pasar, di tengah rapat, di tengah kesibukan rumah tangga—untuk menata kembali arah hidup.
Setiap salat adalah checkpoint refleksi diri. Lima kali sehari, seseorang dipaksa untuk pause–reflect–realign.
Jika ini bukan sistem kepemimpinan, lalu apa?
Kepemimpinan Islam Modern: Disiplin Moral sebagai Fondasi
Pemikiran kepemimpinan Islam modern (dari Muhammad Abduh, Fazlur Rahman, hingga Tariq Ramadan) berulang kali menegaskan bahwa inti kepemimpinan dalam Islam bukanlah kekuasaan, melainkan amanah, penguasaan diri, dan disiplin moral.
Tariq Ramadan (2009) menyebut salat sebagai mekanisme ethical centering yang membuat seorang muslim kembali kepada nilai-nilai inti dari keputusan sehari-hari. Fethullah Gülen menulis bahwa “salat adalah pelatihan berulang yang membentuk karakter pemimpin sebelum ia memimpin orang lain.”
Pandangan ini mendapat dukungan dari temuan akademik.
Temuan ini memperkuat argumen bahwa ritme ibadah harian (termasuk salat lima waktu) mendorong terbentuknya regulasi diri dan disiplin perilaku. Kedua kualitas tersebut merupakan fondasi karakter kepemimpinan dalam perspektif psikologi maupun etika Islam (Ahmad, 2023).
Gallup (2021) menemukan bahwa pemimpin yang menjalankan kebiasaan reflektif dan interaksi rutin (terutama melalui coaching mingguan dan percakapan bermakna dengan anggota tim) menghasilkan peningkatan signifikan dalam kinerja organisasi. Studi Gallup terhadap 14.774 manajer menunjukkan bahwa praktik coaching yang konsisten meningkatkan keterlibatan manajer hingga 22%, sementara keterlibatan tim meningkat hingga 18%, dan kinerja tim melonjak antara 20–28% dalam periode 9–18 bulan. Temuan ini memperkuat bahwa ritme harian yang mengintegrasikan disiplin dan refleksi, dua elemen inti dalam salat lima waktu, berkontribusi material terhadap kualitas kepemimpinan. Salat sebagai ritual yang mengajarkan jeda reflektif dan pengaturan diri secara konsisten dapat dipahami sebagai bentuk “micro-coaching” spiritual yang menata fokus, ketenangan, dan kehadiran diri seorang pemimpin.
Maka, praktik spiritual dan efektivitas kepemimpinan bukanlah dua hal yang bertentangan. Justru, keduanya saling menguatkan.
Perspektif KH. Hasyim Asy’ari: Nizham sebagai Fondasi Kepemimpinan
Akan tetapi, di tengah arus pemikiran Islam modern, Indonesia memiliki tokoh besar yang telah menegaskan konsep ini jauh sebelum teori kepemimpinan modern popular: KH. Hasyim Asy’ari. Pendiri Nahdlatul Ulama ini memberikan perhatian khusus pada konsep nizham (keteraturan), disiplin, dan kontrol diri sebagai fondasi akhlak dan kepemimpinan.
Dalam karya monumentalnya Adab al-‘Alim wa al-Muta‘allim, KH. Hasyim Asy’ari menulis:
“Tidak akan tegak agama dan kehidupan manusia tanpa disiplin dan pengaturan waktu.”
Pernyataan itu bukan nasihat moral biasa. Ini adalah tesis ketatanegaraan dan kepemimpinan.
KH. Hasyim menegaskan bahwa:
- keteraturan waktu,
- konsistensi perilaku,
- pengaturan diri,
- dan komitmen pada amanah
adalah syarat mutlak bangkitnya sebuah masyarakat. Salat lima waktu, dalam pandangan beliau, bukan hanya kewajiban ibadah melainkan mekanisme pendidikan nizham yang membentuk umat menjadi teratur, kuat secara mental, dan berdisiplin.
Prof. Azyumardi Azra menafsirkan pemikiran ini sebagai “tatanan moral Islam” yang menjadi basis kepemimpinan etis dan kemampuan sosial untuk membangun peradaban.
Dengan menggabungkan pemikiran KH. Hasyim Asy’ari dengan teori Dorst dan Schön, kita bisa melihat gambaran baru:
salat lima waktu adalah sistem kepemimpinan Nusantara, lokal dalam praktik, global dalam teori.
Salat sebagai Pelatihan Kepemimpinan Harian
Jika kita menelaah lebih jauh, salat lima waktu melatih empat kualitas kepemimpinan yang sangat relevan dengan konteks modern:
1. Disiplin Waktu
KH. Hasyim Asy’ari mengaitkan ketaatan waktu dengan moralitas kepemimpinan.
Pemimpin yang tidak menghargai waktu sulit dipercaya.
Salat mengajarkan manajemen waktu berbasis prioritas, bukan sekadar efisiensi.
2. Self-Leadership
Sebelum memimpin orang lain, seseorang harus memimpin diri sendiri.
Salat melatih disiplin harian dan pengaturan ritme batin.
3. Reflection-in-Action (Donald Schön)
Setiap kali salat, seseorang berhenti untuk mengevaluasi dirinya.
Ini adalah micro-reflection yang meningkatkan kualitas keputusan.
Donald Schön menekankan bahwa pemimpin harus menjadi reflective practitioner, yaitu pemimpin yang:
- merenung saat bertindak (reflection-in-action),
- merenung setelah bertindak (reflection-on-action).
Tanpa refleksi, kata Schön, pemimpin akan mengulang pola lama dan gagal belajar.
GEMA Nusantara mengkritik bahwa dalam organisasi zombie, “keputusan dibuat sekadar untuk memenuhi formalitas, bukan untuk memahami masalah.” Ini adalah ciri pemimpin yang tidak melakukan refleksi.
Salat menyediakan:
- ruang jeda,
- ruang kontemplasi,
- ruang pengamatan diri,
- ruang pembacaan ulang kesalahan.
Ini selaras sepenuhnya dengan teori Schön.
4. Frame Innovation (Kees Dorst)
Salat mengubah cara seseorang menempatkan nilai.
Ia memindahkan prioritas dari ego menuju tauhid, dari dunia menuju keseimbangan.
Konsistensi ini memberikan apa yang disebut Daniel Goleman (2000) sebagai inner clarity, kejelasan tujuan batin yang menjadi fondasi kecerdasan emosional kepemimpinan.
Kees Dorst dalam Frame Innovation menegaskan bahwa pemimpin harus mampu menciptakan frame baru ketika frame lama tidak lagi relevan. Organisasi mati bukan karena kurang data, tetapi karena terus melihat realitas melalui cara baca lama.
Sama seperti salat yang memaksa kita mengulang orientasi, pemimpin juga harus:
- menata ulang persepsi,
- menata ulang prioritas,
- menata ulang arah tindakan.
GEMA NUSANTARA (2025) menggambarkan bahwa organisasi zombie “mengulang pola lama tanpa memahami konteks”, sebuah gejala klasik kegagalan framing. Salat, sebagai ritme kepemimpinan, justru mengajarkan constant reframing, sebuah proses yang sangat dibutuhkan organisasi modern.
Salat Lima Waktu sebagai Sistem Kepemimpinan Ritmis
Dalam literatur manajemen modern, ritme organisasi dianggap sebagai salah satu indikator kesehatan kepemimpinan. Heifetz (2009) menyebutnya sebagai “adaptive rhythms”, ritme yang membuat pemimpin mampu mengatur energi, membaca perubahan, dan menjaga fokus jangka panjang.
Salat lima waktu menyediakan ritme kepemimpinan yang tetap, namun fleksibel, menggabungkan momen:
Subuh – Pembukaan Visi
Hari dimulai dengan kejernihan niat. Subuh menjadi momen penetapan visi, orientasi moral, dan pernyataan arah tujuan sebelum aktivitas dimulai.
Dzuhur – Penyelarasan Ulang
Di tengah kesibukan, Dzuhur mengingatkan pemimpin untuk berhenti sejenak, mengecek apakah langkah masih selaras dengan nilai dan tujuan.
Ashar – Evaluasi Tengah Proses
Ashar berfungsi sebagai checkpoint, mendorong evaluasi progres, peninjauan strategi, dan koreksi sebelum hari memasuki fase akhir.
Maghrib – Peneguhan Kembali Arah
Ketika hari mulai mereda, Maghrib menjadi momen memperkuat kembali komitmen, menegaskan arah, dan menjaga konsistensi dalam sisa waktu.
Isya – Refleksi Mendalam
Penutup hari ini menyediakan ruang untuk introspeksi, perenungan moral, evaluasi diri, dan pembelajaran untuk meningkatkan kualitas kepemimpinan esok hari.
Jika organisasi memiliki siklus kerja seperti itu, ia tidak akan mudah menjadi organisasi zombie. Ia memiliki ritual evaluasi, ruang jeda, dan moments of clarity yang terdistribusi sepanjang hari.
Integrasi Kepemimpinan Hasyim Asy‘ari
Dalam tradisi kepemimpinan Islam Nusantara, Hadratussyaikh Hasyim Asy‘ari menawarkan kerangka kepemimpinan berbasis nilai (value-based leadership) yang menekankan kejujuran moral, keteladanan, disiplin, dan pemeliharaan ruh organisasi. Dalam Adab al-‘Alim wa al-Muta‘allim, beliau menegaskan bahwa pemimpin harus memiliki “kesadaran diri, kejernihan hati, dan kemampuan membaca zaman”, karena tanpa itu organisasi akan hidup secara lahiriah tetapi mati batinnya. Konsep ini sangat relevan ketika dikaitkan dengan istilah “organisasi zombie”, yakni organisasi yang bergerak tetapi kehilangan ruh, visi, dan orientasi (GEMA NUSANTARA, 2025). Kepemimpinan ala Hasyim Asy‘ari menolak model semacam itu, sebab menurutnya pemimpin wajib melakukan muhasabah (refleksi mendalam) yang fungsinya selaras dengan gagasan reflection-in-action Donald Schön. Di saat yang sama, penekanan Hasyim Asy‘ari tentang pentingnya fikrah (kerangka berpikir yang benar) menaut erat dengan konsep problem framing Kees Dorst. Dengan demikian, kepemimpinan Islam versi Hasyim Asy‘ari bukan hanya etis, tetapi juga epistemik, yaitu, pemimpin dituntut menjaga ruh organisasi, mencipta frame baru saat tantangan berubah, dan terus merefleksikan tindakannya secara sadar.
Mengapa Krisis Kepemimpinan Sering Kali Berakar pada Krisis Kedisiplinan?
Dalam banyak kasus, krisis kepemimpinan bukan disebabkan oleh kurangnya kapasitas intelektual, melainkan ketiadaan disiplin moral dan refleksi diri. Kita sering memiliki pemimpin yang cerdas, tetapi tidak teratur. Visi besar, tetapi tidak dikelola dengan disiplin. Program ambisius, tetapi tidak konsisten.
Di sinilah relevansi salat lima waktu.
Dalam tradisi Islam, sistem kepemimpinan tidak dimulai dari lembaga atau struktur, tetapi dari pengaturan diri. Inilah yang ditegaskan KH. Hasyim Asy’ari sebagai pondasi kebangkitan umat. Inilah pula yang ditegaskan teori modern sebagai elemen utama kepemimpinan efektif: kendali diri, kejelasan nilai, dan kemampuan refleksi.
Dengan kata lain, ketika salat ditinggalkan sebagai sistem, krisis kepemimpinan akan muncul sebagai gejala.
Ketika salat ditegakkan sebagai sistem, kepemimpinan akan tumbuh sebagai dampak.
Penutup: Salat sebagai Sekolah Kepemimpinan yang Terlupakan
Ketika dunia modern sibuk mempromosikan mindfulness, self-regulation, dan refleksi harian sebagai pola hidup efektif, Islam sebenarnya sudah memiliki sistem tersebut secara lebih utuh, lebih terstruktur, dan lebih fungsional melalui salat lima waktu.
Dorst mengajarkan kerangka berpikir.
Schön mengajarkan refleksi aksi.
Pemikir Islam modern mengajarkan penguasaan diri.
KH. Hasyim Asy’ari mengajarkan nizham sebagai fondasi kepemimpinan.
Dan salat lima waktu mensintesiskan semuanya dalam bentuk paling sederhana, paling rutin, dan paling merakyat.
Salat bukan sekadar ritual.
Ia adalah ekosistem kepemimpinan.
Dan mungkin, untuk mengatasi krisis kepemimpinan hari ini, bangsa ini hanya perlu kembali pada sistem kepemimpinan yang sudah diwariskan tanpa disadari: salat lima waktu.

Gagasan kepemimpinan KH. Hasyim Asy‘ari menawarkan perspektif yang sering kali luput dari wacana kepemimpinan modern: bahwa kepemimpinan tidak hanya soal kapasitas intelektual, tetapi terutama soal disiplin moral, keteladanan, dan kejernihan batin. Dalam tradisi Islam Nusantara, beliau menekankan pentingnya kesadaran diri, kejernihan hati, dan kemampuan membaca zaman. Tanpa tiga hal itu, suatu organisasi bisa saja tetap berjalan, tetapi kehilangan ruhnya—mirip apa yang kini disebut sebagai organisasi zombie.
Jika kita jujur, banyak krisis kepemimpinan hari ini sebenarnya bukan akibat kurangnya pendidikan, gelar akademik, atau kecerdasan para pemimpin kita. Justru yang paling sering hilang adalah kedisiplinan moral dan refleksi diri. Kita sering bertemu pemimpin yang visioner, tetapi inkonsisten. Cerdas, tetapi tidak teratur. Ambisius, tetapi tidak mampu menjaga ritme kerja dan integritas. Pada titik inilah peringatan KH. Hasyim Asy’ari menemukan relevansinya.
Menurut saya, gagasan ini bertemu dengan teori-teori kepemimpinan modern. Donald Schön bicara tentang reflection-in-action, sedangkan Kees Dorst bicara tentang problem framing. Dua konsep ini sebenarnya sudah hidup dalam tradisi Islam melalui praktik muhasabah dan fikrah. Bahkan, jika ditarik lebih jauh, Islam telah menyediakan kerangka self-regulation yang lebih terstruktur melalui salat lima waktu.
Di sinilah letak kritik saya: bangsa ini terlalu sibuk mengimpor konsep mindfulness, discipline training, atau emotional regulation dari Barat, padahal sistem lokal yang lebih mapan sudah ada dan diwariskan turun-temurun. Salat lima waktu bukan hanya kewajiban ritual; ia merupakan sistem kepemimpinan yang melatih konsistensi, ketepatan waktu, pengendalian diri, dan refleksi secara berulang.
Ketika salat diabaikan sebagai sistem, maka gejala kemunduran kedisiplinan akan muncul—dan dari situlah krisis kepemimpinan tumbuh. Namun ketika salat ditegakkan secara sadar, teratur, dan penuh pemaknaan, ia menjadi ekosistem yang memelihara disiplin personal dan kejernihan moral. Dua elemen inilah yang dibutuhkan setiap pemimpin.
Bagi saya sebagai mahasiswa, pesan itu sederhana tapi kuat: kepemimpinan bukan dimulai dari gedung birokrasi atau jabatan organisasi, melainkan dari diri sendiri. Jika kita gagal mendisiplinkan lima menit pertama dari setiap waktu salat, bagaimana mungkin kita mampu mendisiplinkan lembaga, kelompok, atau masyarakat?
Mungkin bangsa ini memang tidak kekurangan pemimpin pintar. Yang kita butuhkan adalah pemimpin yang tertata, terjaga ritmenya, dan raut hatinya bersih—sebagaimana yang diajarkan oleh KH. Hasyim Asy’ari. Dan sebelum mencari model kepemimpinan baru, kita perlu kembali menengok sistem yang telah diwariskan—sebuah sistem sederhana yang hadir lima kali sehari: salat.