Tangerang — Program pendidikan karakter di PKBM Cipta Cendikia, Cipondoh, Tangerang(20/4), bukan hanya sekadar wacana, tetapi telah menjadi praktik nyata yang berdampak pada peningkatan kemampuan sosial dan emosional siswa. Tiga narasumber pendidikan, yakni Iman Lubis, S.E., M.S.M., Indra Prama Ishwara, S.E., M.M., dan Joko Prasetiyo, S.Pd., M.Pd., memaparkan teori sekaligus implementasi pendidikan karakter yang diterapkan di lembaga ini.
Teori Pendidikan Karakter Lickona
Menurut Iman Lubis, implementasi teori Thomas Lickona (2017) di PKBM dilakukan melalui tiga komponen utama: moral knowing, moral feeling, dan moral action.
- Pada tahap moral knowing, siswa diperkenalkan pada nilai-nilai seperti empati dan tanggung jawab lewat diskusi reflektif.
- Pada tahap moral feeling, mereka berlatih empati lewat simulasi sosial, misalnya memerankan siswa baru yang diasingkan.
- Pada tahap moral action, siswa diajak melakukan role-play penyelesaian konflik damai hingga proyek anti-bullying.
“Dengan cara ini, siswa tidak sekadar menghafal nilai, tapi benar-benar merasakan dan mempraktikkannya dalam kehidupan sehari-hari,” jelas Iman Lubis.
Teori Sosial-Emosional Goleman & CASEL
Sementara itu, Indra Prama Ishwara mengacu pada teori Daniel Goleman (1995) dan kerangka CASEL, yang menekankan lima kompetensi utama: self-awareness, self-management, social awareness, relationship skills, dan responsible decision-making.
Implementasinya antara lain: jurnal refleksi harian, latihan pernapasan, simulasi sosial, kerja kelompok, dan diskusi studi kasus.
“Melalui metode ini, siswa tidak hanya memahami emosi secara konsep, tapi juga belajar keterampilan nyata dalam mengelola diri dan membangun relasi sehat,” kata Indra.
Teori Humanistik Rogers & Maslow
Joko Prasetiyo menekankan pentingnya teori humanistik ala Carl Rogers dan Abraham Maslow. Di PKBM, pendekatan ini diwujudkan lewat kelas reflektif yang aman secara psikologis, dialog terbuka tanpa penghakiman, serta umpan balik positif personal.
“Guru bukan lagi pusat informasi, melainkan fasilitator pertumbuhan karakter,” tegas Joko. Dengan pendekatan ini, siswa merasa lebih dihargai, lebih percaya diri, dan lebih mampu menginternalisasi nilai karakter secara sukarela.
Generasi Tangguh
Kombinasi tiga pendekatan ini membentuk fondasi pendidikan karakter yang menyeluruh: nilai yang dipahami, dirasakan, dan dipraktikkan. Dampaknya, siswa PKBM Cipta Cendikia semakin siap menghadapi tantangan sosial dan emosional di era modern.
