GEMA NUSANTARA

GERAKAN MEDIA ANAK BANGSA NUSANTARA

Subscribe
Organisasi Zombie: Ancaman Senyap bagi Regenerasi Mahasiswa

Organisasi mahasiswa sejak lama dikenal sebagai “laboratorium kepemimpinan”. Dari ruang inilah lahir banyak tokoh bangsa dengan idealisme yang menyala. Namun, kini bayangan “organisasi zombie” semakin nyata. Istilah ini merujuk pada organisasi yang masih hidup secara struktur, tapi kehilangan vitalitas: miskin inovasi, gagasan, dan regenerasi.

Kepemimpinan yang redup

James MacGregor Burns (1978) menyebut kepemimpinan transformasional sebagai kunci menghidupkan semangat kolektif. Sayangnya, banyak organisasi mahasiswa justru terjebak pada pola transaksional, sekadar menjalankan agenda rutin tanpa arah besar.

Politik kampus ala Machiavelli

Seperti diuraikan Niccolò Machiavelli dalam The Prince (1532), perebutan kekuasaan seringkali menghalalkan segala cara. Fenomena serupa kerap tampak dalam politik kampus: jabatan lebih diperebutkan dibandingkan gagasan.

Krisis makna dan loyalitas kader

Karl Weick (1995) mengingatkan bahwa organisasi hanya hidup jika anggotanya mampu memberi makna pada aktivitas. Namun, banyak kegiatan ormawa hari ini dijalankan sekadar formalitas. Fragmentasi internal pun makin menggerus soliditas. Penelitian Kurniawan dan Putra (2020) menunjukkan bahwa fragmentasi politik kampus melemahkan loyalitas kader, membuat organisasi sulit melahirkan regenerasi berkualitas.

Tantangan era digital

Generasi mahasiswa kini lebih tertarik pada dunia digital ketimbang aktivitas konvensional. Hidayat dan Prasetyo (2022) menegaskan, krisis regenerasi ormawa adalah dampak dari derasnya arus digitalisasi. Alih-alih menjadi ruang kaderisasi, organisasi mahasiswa sering kalah menarik dibanding media sosial.

Jalan keluar: kepemimpinan strategis

Walidin, Hamdiah, dan Mulyani (2023) menekankan pentingnya kepemimpinan strategis untuk mengatasi stagnasi organisasi mahasiswa. Pemimpin visioner mampu menghidupkan kembali semangat kolektif. Tanpa itu, ormawa hanya akan jadi catatan administratif belaka.

Penutup

Pertiwi, Widodo, dan Suyitno (2021) mengingatkan bahwa organisasi mahasiswa masih punya peran penting dalam membangun karakter generasi muda. Namun, jika tidak berbenah, ormawa akan terjebak jadi “organisasi zombie”: hidup segan, mati tak mau.

Saatnya mahasiswa dan kampus menyalakan kembali api intelektual. Organisasi tidak cukup hanya ada di kertas administrasi, ia harus hadir nyata, membawa perubahan, dan relevan dengan zaman.

Catatan Redaksi Gema

Tulisan ini merupakan opini pribadi penulis. Seluruh isi, data, dan analisis menjadi tanggung jawab penulis dan tidak selalu mencerminkan sikap resmi redaksi Gema (Gerakan Media Anak Bangsa).

Disclaimer

Tulisan ini tidak dimaksudkan untuk menyerang, merugikan, atau menyinggung pihak manapun. Artikel ini bersifat refleksi konseptual tentang fenomena organisasi dalam konteks manajemen. Jika terdapat pihak yang merasa dirugikan, redaksi akan melayani hak jawab dan hak koreksi sesuai dengan ketentuan UU Pers No. 40 Tahun 1999.

Sumber Bacaan

Burns, J. M. (1978). Leadership. New York: Harper & Row.
Hidayat, T., & Prasetyo, A. (2022). Tantangan regenerasi organisasi mahasiswa di era digitalisasi. Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan, 7(2), 87–96. https://doi.org/10.24832/jpk.v7i2.2012
Kurniawan, A., & Putra, R. D. (2020). Fragmentasi politik kampus dan loyalitas kader: Studi pada organisasi mahasiswa ekstra. Jurnal Ilmu Sosial dan Politik, 24(2), 155–170. https://doi.org/10.22146/jsp.51478
Machiavelli, N. (1532). The Prince. Florence: Antonio Blado d’Asola.
Pertiwi, A. D., Widodo, S. A., & Suyitno, I. (2021). Peran organisasi kemahasiswaan dalam membangun karakter: Urgensi organisasi kemahasiswaan pada generasi digital. Aulad: Journal on Early Childhood, 4(3), 123–133. https://doi.org/10.31004/aulad.v4i3.202
Walidin, B., Hamdiah, & Mulyani, E. (2023). Pelatihan kepemimpinan dan manajemen organisasi mahasiswa. Jurnal Kreativitas Mahasiswa, 2(1), 45–53. https://ejournal.unisai.ac.id/index.php/jkdm/article/view/788
Weick, K. E. (1995). Sensemaking in organizations. Thousand Oaks, CA: Sage Publications.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *